Aksi Ambil Untung Dorong Harga Emas Terjun Bebas

RIFAN FINANCINDO BERJANGKAPernyataan Gubernur Bank Sentral Wilayah Cleveland, Loretta Mester cukup ampuh. Bahwa suku bunga AS berpotensi lekas naik lebih dini, memicu aksi jual besar-besaran di perdagangan hari Selasa (04/10/2016).  Sehari sesudahnya, pasar masih terkoreksi, kabar akan dihentikan sementara  aksi beli obligasi oleh Bank Sentral Eropa, membuat harga emas limbung.

Memang disemester pertama tahun ini, investor bisa tersenyum dengan bahagia. Harga emas mengalami kenaikan terbesar dalam satu semester, terbesar selama empat puluh tahun terakhir ini. Memasuki semester kedua tahun ini, mulai terasa guncangan menerpa laju kenaikan harga emas. Isu yang paling besar adalah masalah kenaikan suku bunga AS. Pasar percaya, suku bunga AS akan naik setidaknya dibulan Desember ini. Secara meyakinkan, Loretta Mester memberikan pernyataan bahwa kenaikan suku bunga bisa dilakukan November ini demi kebaikan perekonomian AS sendiri. Tentu saja ini menimbulkan kepanikan dikalangan investor dan memicu aksi jual secara besar-besaran untuk mengamankan keuntungan mereka.

Bukan itu saja yang menjadi pertimbangan investor untuk segera membukukan keuntungannya. Kabar dari Eropa bahwa mereka akan menghentikan aksi beli obligasi, yang merupakan kebijakan moneter lunak mereka

Harga emas memang mendapat dukungan kenaikan dari kondisi ekonomi politik Eropa yang tidak menentu, terlebih setelah Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa. Perdana Menteri Inggris, Theresa May sendiri menyatakan baru bulan Maret tahun depan akan mulai membahas bagaimana kelanjutan keputusan tersebut. Uni Eropa sendiri memberikan waktu dua tahun untuk membereskan hal-hal terkait dengan keluarnya Inggris dengan Uni Eropa. Dalam masa ini, kondisi menjadi tidak menentu.

Belum lagi, di AS sendiri pada bulan November akan dilakukan pemilihan Presiden. Ini juga memberikan sentimen positif bagi harga emas. Program ekonomi yang dikampanyekan oleh kedua kandidat, dianggap berpotensi positif bagi kenaikan harga emas dimasa depan. Tak heran, muncul pemikiran bahwa harga emas bisa melambung kembali diatas $1.400 per ons paska pemilihan Presiden pada 8 November ini.

Seminggu sebelum pemilihan Presiden AS, akan dilakukan pertemuan rutin bank sentral AS, FOMC. Pada pertemuan inilah, Loretta Mester yang merupakan salah satu peserta terjadwal, menegaskan perlunya untuk menaikkan suku bunga segera. Salah satu alasannya adalah untuk memberikan ruang bagi Bank Sentral sendiri dimasa depan, seandainya perekonomian AS tidak tumbuh berkembang seperti yang diharapkan, maka bisa dilakukan pemangkasan suku bunga kembali. Oleh sebab itu, suku bunga harus dinaikkan lebih dahulu.

Pernyataan yang agresif ini memicu aksi jual pasar pada perdagangan hari Selasa. Mendorong harga emas turun 3,3%. Terbesar sejak Juli 2015 dan menembus harga dibawah $1,300 per ons. Ini merupakan hasil terbesar upaya mendobrak harga psikologis emas, untuk pertama kalinya sejak Juni kemarin. Sayangnya, ini bisa dianggap masih menjadi pembuka bagi jatuhnya harga emas lebih lanjut.(Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat : PT. Rifan financindo berjangka pekanbaru

Sumber : financeroll