ANALISA KOMPREHENSIF KOMODITAS, 12 Juni 2015

Rifan Financindo Berjangka ? Emas berjangka ditutup rendah pada penutupan Kamis sore (11/6) di bursa AS dan mengakhiri pergerakan naik dalam tiga sesi beruntun setelah peningkatan dalam penjualan ritel AS membantu mengangkat dolar dan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada sekitar akhir tahun ini.
Harga emas menetap di atas posisi terendah sesi tersebut, menyusul berita bahwa Dana Moneter Internasional dan Yunani telah menghentikan pembicaraan bailout karena tidak adanya kemajuan dalam pembahasan tersebut.Emas untuk pengiriman Agustus di Comex turun $6,20 atau 0,5%, berakhir di $1.180,40 per troy ounce. Harga emas telah menyentuh level terendah intraday di bawah $1.175. Perak untuk pengiriman bulan Juli ditutup di $15,96 per troy ounce, hampir tidak bergerak untuk tiga sesi berturut-turut.

Emas tetap negatif setelah Departemen Perdagangan AS mengatakan bahwa penjualan ritel naik sebesar 1,2% pada bulan Mei, sementara penjualan yang tidak termasuk mobil dan bensin naik 0,7%. Angka penjualan keseluruhan menurun dari perkiraan konsensus yakni ada kenaikan sebesar 1,5%. Meski demikian, revisi data menunjukkan bahwa penjualan pada bulan April dan Maret lebih kuat dari yang dilaporkan sebelumnya.

Suku bunga yang lebih tinggi adalah kenyataan pahit bagi emas, yang cenderung mendapatkan keuntungan dari kebijakan moneter yang lebih longgar.

Namun, waktu kenaikan suku bunga dari The Fed tersebut belum pasti, artinya masih dapat berubah sewaktu-waktu dan IMF serta World Bank menyarankan bahwa Fed harus menunggu sampai tahun 2016 untuk memulai pengetatan kebijakan.

Minyak berjangka ditutup dengan kerugian 1% pada hari kamis sore (11/6) di tengah dolar yang menguat dan di tengah perkiraan bahwa permintaan global akan meningkat pada tahun 2015 secara keseluruhan.

Pedagang menganalisis sebuah laporan yang dirilis pada hari Kamis dari pengawas energi internasional yang mengatakan bahwa permintaan minyak mentah telah meningkat di seluruh dunia, namun peningkatan jumlah pasokan akan tetap kuat.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak bulan Juli kehilangan 66 sen atau 1,1% dan berakhir di $60,77 per barel di New York Mercantile Exchange. Harga ditutup di level $61,43 pada hari Rabu yang lalu. Brent untuk pengiriman bulan Juli turun sebesar 59 sen atau 0,9% ke level $65,11 per barel di bursa ICE Futures London.

Dalam laporan bulanan, Badan Energi Internasional memperkirakan bahwa permintaan akan meningkat sebesar 1,4 juta barel per hari, dengan rata-rata 94 juta per hari pada tahun ini. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya dikarenakan pertumbuhan dalam hal ekonomi, kondisi cuaca yang lebih dingin, dan harga minyak mentah yang lebih rendah mengangkat tingkat konsumsi pada dekade pertama tahun 2015.

Namun IEA juga mengatakan bahwa pertumbuhan jumlah pasokan akan tetap kuat. Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab terus menjaga produksi yang dihasilkan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak lebih dari 1 juta barel per hari.

Seperti biasa, hari ini fokus utama pasar masih tetap pada performa dolar berkaitan dengan prospek kenaikan suku bunga fed funds. Data inflasi (PPI) dari AS hari ini akan menjadi isu utama akan akan disoroti dengan ketat. Data ini diprediksi meningkat yang implikasinya bisa negatif bagi harga komoditas.

Sumber :?http://financeroll.co.id/expert-comment/analisa-komprehensif-komoditas-12-juni-2015/