Dolar Terbenam Di Tengah Potensi Perang Korut-AS

Rifan Financindo Pekanbaru –  Dolar AS merosot ke level rendah delapan minggu di sesi perdagangan Jumat (11/Agustus) siang ini karena permintaan terhadap Yen Jepang kembali meningkat. Meningkatnya tensi ketegangan antara Korea Utara (Korut) dan AS, ditambah dengan penantian pasar akan rilis data CPI AS malam nanti, membuat Dolar tertekan.

trump-vs-kim-jong-un

Namun, saat berita ini ditulis, USD/JPY diperdagangkan pada posisi 109.170, telah naik sedikit dari level rendah delapan minggu di angka 108.91 yang tercapai di awal sesi pagi tadi. Sementara itu, USD/CHF juga mulai bangkit, dengan diperdagangkan pada posisi 0.9622, dari level 0.9600 yang terbentuk beberapa jam sebelumnya.

Trump: Korut Sebaiknya Mulai Khawatir

Dua mata uang safe-haven, yakni Yen dan Franc Swiss, kembali menemukan support setelah Korea Utara menyatakan pada media, bahwa mereka akan mengembangkan rencana peluncuran misil ke wilayah Guampada pertengahan Agustus ini. Pernyataan itu menyusul ancaman yang juga telah mereka deklarasikan dua hari yang lalu. Ada kesan bahwa Korea Utara hanya menganggap pernyataan-pernyataan Presiden AS, Donald trump, tentang mereka hanyalah omong kosong.

Menanggapi hal ini, Donald Trump mengatakan bahwa Korea Utara seharusnya merasa sangat cemas. “Jika Korea Utara melakukan sesuatu atau bahkan sekadar berpikir untuk menyerang siapapun yang kami sayangi, yang kami wakili, sekutu kami, atau bahkan kami, maka mereka seharusnya mulai sangat, sangat cemas sekarang.” kata Trump dari klub golf miliknya di New Jersey. Akan tetapi, saat ditanya mengenai kemungkinan serangan pendahuluan dari AS, Trump menolak berkomentar.

Menteri Pertahanan AS, James Mattis, juga menambahkan bahwa perang hanya akan menimbulkan bencana, dan diplomasi akan menjadi cara yang terbaik untuk mendapatkan hasil.

Yen, The Big Story

Menurut Shaun Osborne, Kepala Strategi Forex di Scotiabank, Yen Jepang adalah mata uang yang paling penting sekarang. Aksi penghindaran risiko masih menjadi topik utama di pasar, katanya pada Reuters. Di samping itu, data inflasi konsumen (CPI) AS yang akan dirilis malam nanti, akan menjadi tambahan referensi bagi The Fed untuk menentukan kelanjutan rate hike tahun ini. Kekhawatiran akan lemahnya CPI AS, turut menjadi beban bagi Greenback.( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat : Rifanfinancindo

Sumber : seputarforex