ECB Gusar, Pertumbuhan Eropa Masih Merambat

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA?? Pernyataan Mario Draghi dalam pertemuan pejabat European Central Bank (ECB) hari Kamis (08/09/2016) menunjukkan kegalauannya dalam merangsang pertumbuhan dan mendorong inflasi naik dikawasan ini, salah satu sebabnya adalah penguatan Euro itu sendiri.

Pihak ECB mengkonfirmasi proyeksi pertumbuhan inflasi pada 2018 sebesar 1,6% sementara ditahun 2017 dipangkas menjadi 1,2% dari sebelumnya sebesar 1,3%. Pertumbuhan dikawasan ini juga diperbaharui menjadi 1,6% dan 1,7% untuk tahun 2017 dan 2018. Sementara tahun ini diperkirakan pertumbuhan masih bisa mencapai 1,7%.

Draghi menegaskan bahwa kebijakan moneter sebelumnya telah dianggap cukup efektif. Menurutnya dampak kebijakan tersebut terlihat dari pertumbuhan makro ekonomi. Meski demikian, Draghi juga tidak menampik bahwa terdapat beberapa penurunan yang terjadi. Bukti-bukti yang nyata menunjukkan bahwa Euro cukup kuat bertahan ditengah ketidak pastian ekonomi dan politik dikawasan ini.

Pertumbuhan kawasan ini mengalami perlambatan sebesar 0,3% di kwartal kedua, setelah perekonomian mampu tumbuh sebesar 0,5% dikwartal pertama. Inflasi hanya sebesar 0,2% dibulan Agustus. Ini lebih rendah daripada yang diharapkan dan tidak beranjak angkanya dari bulan sebelumnya. Hasil tersebut sebetulnya tidak mengejutkan. Pasalnya sebuah jajak yang dilakukan oleh IHS Markit menunjukkan bahwa aktifitas ekonomi di 19 negara anggota blok ini mengalami pelemahan yang paling hebat dalam 19 bulan terakhir ini.

Draghi menambahkan bahwa ECB tetap berharap pertumbuhan akan berlangsung moderat secara konsisten. Pemulihan ekonomi mungkin akan terganggu dengan kondisi Inggris yang memilih keluar dari Uni Eropa, tambahnya. Draghi secara tegas menolak kritikan yang menuding kebijakan suku bunga negatif mereka telah menyakitkan sektor perbankan dan karena itu kemudian dijadikan alasan terjadinya kecilnya kredit yang mengalir untuk mendukung pemulihan ekonomi. Mengkomentari tudingan ini, Draghi menegaskan kembali keyakinannya bahwa suku bunga negatif akan memastikan konsekuensi-konsekuensi dan tantangan-tantangan bagi perbankan yang diwaspadai oleh Bank Sentral. Bagaimanapun juga, suku bunga rendah ini tidak bisa dipergunakan untuk mengadili segala permasalahan yang muncul dari dunia perbankan hari ini, tambahnya.

Euro dan Yen mengalami penguatan di tahun ini. Para spekulan berperan dalam mendorong kenaikan ini dimana mereka cukup yakin upaya-upaya kedua bank sentral dalam mengeluarkan kebijakan yang bisa merangsang pertumbuhan ekonomi telah mencapai batasnya. Indikasinya adalah semakin kecil perbedaan sikap dan kebijakan yang mereka ambil dengan kebijakan yang dilakukan oleh Bank Sentral AS. Keputusan The FED untuk menunda-nunda kenaikan suku bunganya telah membuat Dolar sempoyongan melawan mata uang besar lainnya.

Alhasil, Euro secara relatif mengalami penguatan meskipun ECB tidak banyak mengeluarkan kebijakan baru. Ruang gerak ECB untuk menahan penguatan Euro mengecil, ditengah gejolak politik di kawasan ini. Berbagai kebijakan lunak yang coba ditawarkan oleh Bank Sentral Eropa akan menemui kegagalan dalam menghalau aliran masuk modal kedalam Eropa. Hal ini mendorong mata uang ini terus meningkat, disaat yang sama perbankan Eropa sendiri memilih untuk menjaga uang mereka tetap didalam negeri. Euro diperkirakan masih berpeluang naik 5% lagi atas Dolar AS hingga akhir tahun ini. Perkiraan ini lebih tinggi dari sebelumnya sebesar 3,5%.

Ditengah optimisme kenaikan Euro ini, Morgan Stanley justru memperkirakan posisi Euro diakhir tahun nanti akan ada pada kisaran $1.09. Sebagaimana diperkirakan sebelumnya bahwa ECB masih akan memperpanjang kebijakan kuantitatifnya setidaknya hingga akhir tahun. Salah satu alasannya adalah target inflasi sebesar 2% belum juga tercapai hingga kini.

Pertimbangan lain yang bisa membuat Euro menguat atas Dolar AS adalah faktor dari Amerika Serikat itu sendiri. Secara relatif, laju kenaikan Dolar AS saat ini akan tertahan apabila The FED dalam pertemuannya dibulan September ini memutuskan untuk menunda kenaikan suku bunganya. Sedikit sekali perbedaan kebijakan moneter antar kedua bank sentral tersebut, membuat kisaran perdagangan menjadi terbatas. Tak heran dalam perdagangan EURUSD, Euro masih tertahan dikisaran $1.05-$1.15.

Sentimen lain yang menjadi pertimbangan adalah faktor kenaikan surplus anggaran di Zona Euro ditengah penurunan ekonomi dan naiknya suhu politik dikawasan ini. Stabilitas menjadi kata kunci bagi upaya kenaikan Euro lebih lanjut.

(Mbs-rifan financindo berjangka)

Sumber : financeroll