ECB Tambah dan Perluas Kebijakan Stimulusnya

Rifan Financindo Berjangka ? Konsisten dengan janjinya, Maro Draghi kembali menegaskan bahwa jika diperlukan, maka kebijakan stimulus akan ditambah. Pada 11 September 2015, pihak ECB telah menetapkan belanja obligasi publik senilai 314,5 milyar Euro.

Dalam sebuah jajak terbaru Bloomberg, mayoritas responden menyatakan bahwa Presiden European Central Bank (ECB), Mario Draghi akan menambah dana sebesar 1,14 trilyun Euro atau 1,3 trilyun Dolar AS sebagai bagian dari kebijakan stimulusnya. Responden yakin bahwa kebijakan ini akan dilakukan setidaknya dalam 9 bulan kedepan. Mereka juga yakin bahwa saat ini perekonomian Eropa telah mampu tumbuh, meski juga khawatir bahwa pertumbuhan ini tidak akan berlangsung lama.

Dewan Pimpinan ECB telah menunjukkan perhatian mereka bahwa melambatnya perekonomian Global telah mengikis niali ekspor Eropa. Padahal ini merupakan tonggak penyangga pemulihan ekonomo di kawasan ini. Gangguan terhadap ekspor Eropa disaat kondisi domestik masih belum sepenuhnya bangkit, akan menjadi masalah dalam perekonomian di kawasan itu. Pihak Bank Sentral sendiri telah memangkas proyeksi pertumbuhan dan inflasi mereka. Sementara Presiden ECB Mario ?Draghi menegaskan bahwa Kebijakan Kuantitatif (QE) yang mereka jalankan sangat fleksibel ukuran, durasi dan komposisinya. Hal ini berbeda dengan kebijakan kuantitatif yang dijalankan oleh the?Federal Reserve dimana mereka memilih untuk segera menaikkan suku bunga utama setidaknya bisa terjadi dalam minggu ini. Dengan demikian, resiko dari kebijakan kuantitatif tersebut juga tidak tetap.

Hampir 20% responden berharap kebijakan QE Eropa diperbesar dan jangka waktu ditambah dari rencana awal akan diakhiri pada September 2016 nanti. Sekitar 43 % responden juga berharap jumlah besaran dana untuk kebijakan ini ditambah diatas 60 milyar Euro, dan sekitar 29% responden menginginkan cakupan aset dan obligasi yang akan dibeli oleh ECB diperluas jangkauannya. ECB juga memiliki pilihan dengan mengurangi skala pengawasan. Dalam pertemuan yang akan datang, setidaknya ECB diperkirakan akan menambah kredit hingga 70 milyar euro, menurun dari harapan semula 73,8 milyar euro sebagaimana dikatakan pada bulan Juni lalu. Pinjaman ini akan berakhir pada September 2018 dan mengubah suku bunga utama sebesar 0,05 persen.

Pertumbuhan ekonomi Eropa bisa dikatakan telah kembali, setidaknya demikian apabila melihat data terkini yang diterbitkan pada Senin (14/09). Data terbaru menyatakan bahwa hasil produksi Eropa mengalami kenaikan sebesar 0,6 % pada bulan Juli. Angka ini sebesar dua kali lipat dari perkiraan awal. Produksi meningkat di Jerman, Spanyol dan Italia sementara mengalami penurunan di Prancis untuk dua bulan beruntun ini. Pertumbuhan ekonomi di zona Euro sebesar 0,4 % dikuartal kedua, turun dari kuartal pertama sebesar 0,5 %. Data lainnya menunjukkan? bahwa standar pinjaman mengalami penurunan dan permintaan kredit meningkat di kuartal kedua ini. Nilai investasi sendiri tumbuh 1% di semester pertama tahun ini.

Kepercayaan akan membaiknya kondisi ekonomi Eropa juga meningkat. Sebelumnya hanya sekitar 28 persen responden yang yakin, kini meningkat sebesar 32 persen. Hanya sebagian kecil, yaotu 5 persen responden yang justru berpikir bahwa perekonomian Eropa akan menyusut. Bukan tanpa alasan bahwa penyusutan ini bisa terjadi, salah satunya adalah melambatnya perekonomian Tiongkok. Tentu saja posisi Tiongkok sebagai salah satu tujuan ekspor utama Eropa akan berpengaruh pada pertumbuhan dikawasan itu. Langkah Tiongkok yang mendevaluasi Yuan, menjadi awal fluktuasi baru. Harga minyak mentah yang turun pada harga termurahnya dalam enam tahun terakhir ini juga menimbulkan kekhawatiran inflasi di zona Euro bisa negatif.

Kondisi domestik Zona Ekonomi Euro mengalami peningkatan, khususnya di Spanyol dan Irlandia. Sementara Tiongkok, Brazil dan beberapa negara berkembang lainnya mengalami perlambatan ekonomi. Jatuhnya harga minyak mentah dunia membantu kurangi dampak negatif jatuhnya nilai ekspor Eropa khususnya kenegara-negara berkembang tersebut dalam jangka pendek. ?Dalam perkiraannya, ECB memprediksi bahwa pertumbuhan Eropa akan naik 1,4% pada 2015, 1,7% pada 2016 dan 1,8% pada 2017. Sementara laju inflasi diperkirakan pada 2017 sebesar 1,7%. Dengan proyeksi tersebut, kebijakan stimulus masih diperlukan untukmencapai tujuan jangka pendek.

Data-data tersebut mempertegas kondisi ekonomi Eropa secara perlahan telah pulih. Dengan demikian, yang tepat bagi Eropa adalah menjaga stabilitas kebijakan moneter meskipun kondisi ekonomi juga masih tidak menetu secara global. Semuanya kembali berpulang ke ECB untuk melakukannya. Kita telah melihat bagaimana kebijakan ini diawali dengan memperluas cakupan aset dan obligasi yang dibeli, kemudian menambah besaran dana yang dipergunakan setiap belannya dan kini dengan memperpanjang kebijakan tersebut, setidaknya hingga satu tahun kedepan.

Sumber :?http://financeroll.co.id/news/ecb-tambah-dan-perluas-kebijakan-stimulusnya/