Emas Akan Bull? Begini Kata Bank-Bank Besar Dunia

Rifan Pekanbaru – Harga emas diprediksi akan reli ke level tinggi yang terakhir dicapai empat tahun lalu. Prediksi tersebut dikeluarkan oleh Incrementum AG, sebuah perusahaan pengelola keuangan terkemuka Jerman yang dilansir oleh Bloomberg. Meningkatnya inflasi dan penerapan suku bunga riil negatif, menurut lembaga tersebut, berpadu mendorong permintaan terhadap emas. Dengan kata lain, emas sekarang sedang memasuki babak awal bull-market.

bull-emas

Harga emas kemungkinan akan naik mencapai $1,400 hingga $1,500 per troy ons pada tahun 2017 ini, kata Ronald-Peter Stoeferle, yang menjabat sebagai Managing Parter di perusahaan yang berbasis di Lienchestein tersebut. Bullion spot–yang diperdagangkan pada harga $1,249 pada hari Rabu (29/Mar) ini–terakhir diperdagangkan di angka $1,400 pada bulan September tahun 2013.

“Untuk jangka pendek, secara teknikal memang masih terbilang netral, kami juga melihat bahwa perubahan tren masih belum begitu menguntungkan,” kata Stoeferle dalam wawancaranya dengan Bloomberg di Singapura kemarin. Menurutnya, kenaikan emas baru akan benar-benar terlihat di awal musim panas atau pertengahan tahun ini.

“…Jadi kondisi emas sekarang ini masih di gerbang awal bull-market, orang-orang masih sangat waspada terhadap penurunan tipis, tapi kondisi ini akan berkembang.”

Tak Semuanya Ramalkan Bull

Tak semua lembaga berpandangan sama dengan Incrementum AG. Masih dari Bloomberg, Societe Generale SA justru merekomendasikan selling saat reli. Bank kawakan asal Prancis itu memprediksi bahwa emas akan merosot begitu The Fed menambah ketat kebijakan moneternya. Emas menurut mereka hanya terpengaruh sedikit oleh perkembangan politik. Societe Generale SA memperkirakan rata-rata haga emas akan mencapai $1,125 di kuartal keempat tahun ini. Perkiraan tersebut sesuai dengan perkiraan para analis Bloomberg. Outlook harga emas versi Bloomberg akan mencapai kisaran $1,230.

Bulan Januari lalu, BNP Paribas– lembaga keuangan yang menduduki peringkat pertama sebagai ‘peramal’ bullion terjitu pada kuartal akhir tahun lalu versi Bloomberg– juga melayangkan catatan waspada. Bullion diproyeksi menurun karena The Fed yang masih sibuk mengejar kenaikan suku bunga dan membiarkan Dolar menguat.

Memasuki kuartal pertama tahun ini, logam mulia emas telah menunjukkan kenaikan akibat para investor yang mengkhawatirkan ketidakmampuan Donald Trump dalam mewujudkan agenda-agenda pemerintahannya sebagai orang nomor satu di Amerika. Belum lagi ketidakpastian politik di Benua Eropa sehubungan dengan Pemilu di beberapa negara dan proses Brexit. Emas sebagai aset safe-haven pun ramai diburu investor.

Masalah-masalah tersebut juga membuat investor harus mempertimbangkan sinyal peningkatan inflasi yang lebih cepat daripada perkiraan. Salah satu yang sudah terjadi adalah inflasi AS yang terlonjak begitu saja mendekati target 2 persen bank sentral, pasca terpilihnya Trump sebagai presiden. The Fed telah menaikkan suku bunganya bulan Maret ini, dan mereka pun tetap hawkish dengan mengutarakan adanya kans untuk menaikkan suku bunga dua kali lagi setelahnya.

Terlepas dari berbagai ekspektasi tersebut harga emas hari ini masih melorot menunggu perkembangan Brexit, tepatnya pengaktifan Article 50 di Inggris.(Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat : PT Rifan Financindo

Sumber : seputarforex