EMAS: Kemerosotan Terpanjang Sejak November 2015

Rifan Financindo Berjangka ? Harga emas terkoreksi selama tiga minggu berturut-turut yang menjadi kemerosotan terpanjang sejak November 2015 seiring dengan spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan depan. Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, harga emas Comex untuk kontrak Juni 2016 stagnan di level $1.252,9 per troy ounce. Adapun emas Gold Spot merosot 2,77 poin atau 0,22% menjadi $1.251,98 per troy ounce. Harga keduanya menunjukkan level terendah sejak 27 April 2016.

Tai Wong, Director of Commodity Products Trading BMO Capital Markets, mengatakan penekan utama harga emas ialah komentar tak terduga The Fed yang bernada hawkish. Hal itu membuat batu kuning anjlok secara mingguan. Investor memprediksi para pembuat kebijakan AS akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan,didorong oleh komentar pejabat The Fed yang menyatakan peningkatan dua kali sepanjang 2016. Namun, besar kemungkinan penaikkan tersebut berpeluang dilakukan pada bulan depan.

Pada awal Mei, emas berhasil melakukan reli di tengah ekspektasi The Fed bakal memertahankan suku bunga rendah lebih lama akibat risiko perekonomian global. Namun, pernyataan pejabat The Fed membuat dolar menguat pekaan ini sekaligus menekan harga emas sebagai aset alternatif. Berdasarkan data Fed Fund Futures, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan depan naik dari 4% pada Jumat menjadi 30%. Mayoritas atau 65% memprediksi kenaikan terjadi pada akhir 2016, dari sebelumnya 75% di awal 2017.

Presiden The Fed New York William Dudley menyampaikan periode Juni-Juli menjadi waktu yang pas untuk menaikkan suku bunga. Presiden Federal Reserve Atlanta Dennis Lockhart dan Presiden Federal Reserve San Francisco John Williams menyampaikan kenaikan suku bunga tetap bisa dilakukan sebanyak dua kali pada tahun ini.

Standard Chartered dalam publikasi risetnya menyampaikan, selain kenaikan suku bunga The Fed, faktor ekonomi makro AS turut berperan terhadap harga. Jatuhnya dolar, obligasi, dan volatilitas pasar ekuitas mendukung penyerapan logam mulia. Pada penutupan perdagangan Jumat indeks dolar bertumbuh 0,047 poin atau 0,05% menuju 95,224. Angka ini merupakan level tertinggi sejak 28 Maret 2016.

?Begitu pun sebaliknya. Seperti pada tahun lalu dimana kekuatan dolar menghambat pertumbuhan emas,? papar riset tersebut. Laporan itu juga menyampaikan permintaan ritel dalam bentuk koin menguat secara tahunan (yoy). Berdasarkan data Bloomberg kepemilikan emas di bursa pada Kamis (19/5) meningkat 5,88 ton menjadi 1.833,1 ton, tertinggi sejak Desember 2013.

Perbedaan utama pasar tahun ini dengan 2015 ialah pembelian emas cepat memudar karena Fed Rate dinaikkan saat Februari. Sedangkan pada 2016, peningkatan suku bunga bank sentral AS tidak dilakukan pada triwulan pertama. ?Secara keseluruhan, dua rintangan utama pertumbuhan batu kuning ialah lemahnya permintaan fisik dan kenaikan suku bunga AS,? tulis Standard Chartered.

Meskipun demikian, mereka meyakini kuatnya permintaan investor akan mengalahkan sentimen lesunya pasar fisik. Adapun faktir kunci yang memengaruhi aksi investor ialah pergerakan data ekonomi makro Paman Sam. Standard Chartered menaikkan prediksi rerata harga emas 2016 ialah US$1.240 per troy ounce dari $1.130 dalam perkiraan sebelumnya. Tahun depan, rerata harga meningkat menuju $1.285 per trouy ounce dibandingkan estimasi awal senilai $1.214 per troy ounce.

Sumber :?http://financeroll.co.id/news/emas-kemerosotan-terpanjang-sejak-november-2015/