Emas Terus Mendaki Di Tengah Keresahan Proses Brexit Dan Trump

PEKANBARU – Harga emas  di sesi Asia pada hari Senin (16/01) mengalami kenaikan lagi, terdukung oleh tingginya permintaan investor terhadap aset safe haven. Hal ini terjadi karena ketidakpastian kebijakan AS menjelang pelantikan Donald Trump dan adanya ketakutan pasar terhadap proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Saat berita ini diturunkan, pair XAU/USD diperdagangkan di kisaran level harga 1,203 Dolar AS. Di samping itu, harga emas batangan bersertifikat milik PT Antam, Tbk terpantau menguat signifikan dari sebelumnya Rp 587,000 menjadi Rp 589,000.

Emas Terus Mendaki Di Tengah Keresahan Proses Brexit Dan Trump

Sementara itu, pada Comex New York Mercantile Exchange, harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Februari mendaki sebesar 0.59 persen menjadi 1,203 Dolar AS per troy ons. Sedangkan harga perak futures untuk pengiriman bulan Maret diperdagangkan di kisaran level harga 16.88 Dolar AS per troy ons;dan harga tembaga futures untuk pengiriman bulan Maret berada di level 2.684 Dolar AS per pound, turun sebesar 0.20 persen.

Selama sesi perdagangan akhir pekan kemarin, harga emas menunjukkan penguatan sejalan dengan pelemahan mata uang Dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi AS. Harga emas sejauh ini sudah meningkat sebesar 6.5 persen dan mampu mendaki ke level tertingginya satu bulan setelah Donald Trump gagal untuk memberikan detail terhadap janji-janjinya terkait pemotongan pajak dan pembangunan infrastruktur yang masif.

Pelaku Pasar Menunggu Pidato Yellen Dan Rilis Data Inflasi AS

Seperti yang diketahui bahwa sebagian besar investor beralih ke aset safe haven emas di tengah dilema petinggi the Fed terhadap rencana kebijakan ekonomi Donald Trump nanti. Beberapa pejabat the Fed mengatakan, rencana kebijakan fiskal dan pemotongan pajak oleh Trump akan meningkatkan perekonomian AS, tapi akan menyebabkan inflasi tinggi dan permasalahan lain seperti kredit macet. Untuk mengetahui sinyal dan indikasi terkait dengan arah kebijakan the Fed selanjutnya, pasar akan menunggu pidato Ketua bank sentral AS, Janet Yellen pada hari Kamis dan Jumat pekan ini.

Di samping itu, pasar juga akan mengamati rilis data inflasi dan data produksi industri AS. Diperkirakan laporan data tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi negara AS pada akhir tahun 2016 mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Analis meyakini, data CPI inti AS akan tumbuh 0.2 persen dan data produksi industri akan meningkat menjadi 0.6 persen dari sebelumnya hanya -0.4 persen. Selain data itu, Departemen ketenagakerjaan AS juga diprediksi akan mencatatkan data Consumer Price untuk bulan Desember naik ke 0.3 persen dari 0.2 persen. (Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat : Rifan Financindo

Sumber : seputarforex