Euro Tiba-Tiba Jeblok Di Tengah Pasar Yang Sepi

PEKANBARU – Euro tampak jeblok terhadap Dolar AS di sesi perdagangan Rabu (28/Desember) sore ini sehubungan dengan menguatnya Dolar AS. Di tengah volume pasar yang terbilang sepi dalam libur panjang akhir tahun ini, pasar kembali fokus pada kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebanyak tiga kali pada tahun 2017 mendatang.

mata-uang-euro

EUR/USD melorot hingga 0.5 persen ke angka 1.0441 dari sebelumnya di angka 1.0470. Pair tersebut sempat menyentuh low 14 tahun di angka 1.0352 pada tanggal 20 Desember lalu. Sejak terpilihnya Trump pada awal November 2016, Dolar AS telah reli hingga hampir 6 persen berkat pertaruhan atas ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS dan kenaikan tingkat suku bunga AS yang lebih cepat di bawah kepemimpinan Trump.

Federal Reserve AS telah menaikkan suku bunganya lagi untuk tahun 2016 ini dan diproyeksi akan menaikkan suku bunga tiga kali lagi. Sebaliknya, Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral Jepang justru berkomitmen untuk tetap pada kebijakan moneter longgar.

Euro Terpukul Tiga Kali Sepanjang Tahun 2016

Terlepas dari pelemahan Euro karena apresiasi Dolar AS, menurut pengamat Babypips.com, EUR/USD sudah mengalami pukulan sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2016 ini. Berikut ini grafiknya:

eur-usd-sepanjang-tahun-2016
Pada dasarnya, ada beberapa pemicu utama bagi price action pair-pair Euro di tahun ini:

  • Ancaman Brexit
  • Ancaman pada sistem perbankan Zona Euro
  • Ancaman pemberontakan dari kelompok separatis Euro
  • Peran Euro sebagai Funding Currency
  • Kebijakan moneter ECB

Lebih rinci, perbankan yang paling disorot sebagai salah satu penentu pergerakan Euro minggu ini adalah perbankan Italia. Pemerintah Italia mempunyai pekerjaan rumah untuk menyuntikkan dana sebesar 6.5 miliar Euro demi menyelamatkan bank terbesar ketiga di Italia, Monte di Paschi di Siena, dari kebangkrutan.

Risiko Politik Lebih Sulit Diprediksi

Terdepresiasi-nya Euro memang kerap dipandang positif untuk menggenjot aktivitas ekonomi dan inflasi di kesatuan 19 negara tersebut. Data resmi pun telah membuktikan positifnya dampak pelemahan Euro. Namun, menurut analisa Kathy Lien, Direktur BK Asset Management, masalah yang dihadapi oleh Eropa sekarang ini sudah lebih dari sekadar permasalahan aktivitas bisnis dari hari ke hari ke saja.

Seperti poin pemicu pelemahan Euro yang telah disebutkan di atas, dalam analisanya, Lien menyebutkan bahwa Zona Euro dan mata uang Euro masih harus berhadapan dengan risiko terbesar dari sektor politik, terorisme, dan krisis perbankan Italia. Faktor-faktor tersebut lebih sulit diprediksi dengan analisis teknikal. Secara pribadi, Lien mengekspektasikan reli sell EUR/USD akan berkisar di level antara 1.05 hingga 1.056 pada tahun 2017 mendatang. (Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat : PT Rifan Financindo

Sumber : seputarforex