RIFANFINANCINDO PEKANBARU | Fokus Pasar Emas Pekan Ini Pada Amerika Serikat Lagi

Rifanfinancindo Pekanbaru – Harga Emas selip lagi akhir pekan lalu, meski bursa berjangka utama di Amerika Serikat tutup dalam rangka liburan Thanksgiving. Perhatian pasar masih terpusat pada rencana bank sentral AS untuk menaikkan suku bunganya  pada bulan Desember mendatang, sementara ketegangan diplomatik antara Turki-AS terus memburuk.

Setelah ditutup menurun ke kisaran $1288 pada akhir perdagangan hari Jumat, Gold Spot XAU/USD Senin pagi ini (27/November) menggeliat naik ke $1289.66 per ons. Harga Emas Antam hanya selip sedikit dibanding pekan lalu, diperdagangkan pada Rp624,000 per gram di LM Jakarta Pulogadung, dengan buyback dipatok pada Rp558,000 per gram.

Fokus Pasar Emas Pekan Ini Pada Amerika Serikat Lagi

Turki-AS Bersitegang

BullionVault menyebutkan bahwa negara konsumen emas terbesar keenam dunia, Turki, mengalami kenaikan pembelian bullion, meski Lira menyentuh rekor level rendah terhadap Dolar AS. Hal ini terjadi seiring kian menguatnya silang pendapat antara Turki dan AS terkait berbagai hal. Diantaranya, sidang atas pedagang Emas Reza Zarrab yang dituduh melanggar sanksi internasional atas program nuklir Iran, akan digelar pada 4 Desember mendatang.

Deputi Perdana Menteri Turki, Bekir Bozdağ, menyebut Zarrab sebagai “sandera” . Dan menurut sebuah editorial di harian Hurriyet, persidangan tersebut “seperti bom waktu di jantung hubungan Turki-AS”. Di sisi lain, Turki tengah mengejar tuntutan atas warga negara AS yang juga figur politik terkemuka Turki, Fethullah Gulen, dengan tuduhan terlibat dalam upaya kudeta tahun lalu, setelah gagal memaksa AS mendeportasinya.

Pergantian Pimpinan Bank Sentral Dan Reformasi Pajak

Indeks Dolar AS masih terpuruk dekat level terendahnya tahun ini di kisaran 92.769. Depresiasi Dolar biasanya berdampak baik bagi harga Emas, karena logam mulia menjadi lebih murah bagi pengguna mata uang lain di pasar internasional. Namun, pergerakan pasar kini cenderung tertahan karena pasar masih menantikan pengumuman kenaikan suku bunga bulan depan, rencana pergantian pimpinan Bank Sentral AS (Federal Reserve), serta upaya Presiden Trump menggolkan rencana Reformasi Pajak.

Janet Yellen, ketua Federal Reserve yang masih menjabat, cenderung melontarkan komentar hati-hati dalam beberapa waktu terakhir. Pidato-pidatonya, termasuk yang akan disampaikan dalam beberapa hari mendatang di depan Parlemen AS, diperkirakan takkan banyak mempengaruhi Dolar AS. Namun, kandidat penggantinya, Jerome Powell, akan menjalani dengar pendapat di Parlemen untuk mengkonfirmasi pemilihannya, pada hari Selasa. Event tersebut akan diamati pasar guna menemukan pandangan umumnya mengenai kebijakan moneter AS tahun depan.

Di samping itu, pekan ini perwakilan partai Republik di Senat AS akan berupaya untuk meloloskan rencana Reformasi Pajak, di tengah perpecahan dalam tubuh partainya sendiri serta pertentangan sengit dengan perwakilan partai Demokrat. Jika berhasil diluncurkan, maka Reformasi Pajak ini diekspektasikan dapat melesatkan aliran pertumbuhan ekonomi jangka pendek dan mendongkrak inflasi. Akan tetapi, sejumlah pihak khawatir beban utang negara akan membengkak karenanya, serta pesimis rencana tersebut bisa diloloskan sebelum pergantian tahun.  ( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat :  ​Rifanfinancindo 

Sumber : seputarforex