Rifanfinancindo Pekanbaru | GDP Zona Euro Sesuai Ekspektasi, Pasar Masih Pantau Inflasi

Rifanfinancindo Pekanbaru – Euro kembali mencuat sejak awal sesi Eropa hari Selasa ini (30/Januari), sementara pasar menantikan sejumlah data ekonomi dari kawasan Uni Eropa. Laju pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan pada laporan Gross Domestic Product (GDP) sesuai ekspektasi, tetapi pasar juga menantikan indikator inflasi Jerman yang akan dipublikasikan nanti malam.

GDP Zona Euro

GDP Meningkat, Inflasi Melandai?

Eurostat mengumumkan GDP Zona Euro Kuartal IV/2017 (preliminer) bertumbuh 0.6% QoQ, sedangkan GDP periode sebelumnya direvisi naik ke 0.7%. Dalam basis tahunan, indikator ini berekspansi dengan laju 2.7% di kuartal IV, sementara pertumbuhan di kuartal III/2017 direvisi naik ke 2.8%.

Seusai rilis data ini, pasangan mata uang EUR/USD melanjutkan kenaikannya hingga mencatat +0.29% ke 1.2417. Euro juga sedikit menguat terhadap Pounds, dengan EUR/GBP menanjak 0.21% ke 0.8813.

Akan tetapi, beberapa jam sebelum data diumumkan, Reuters melaporkan bahwa yield obligasi Eropa melandai hari ini, setelah sempat menyentuh rekor multi-tahun pada hari Senin. Yield obligasi pemerintah di zona Euro terpantau menurun antara 2-3 basis poin, setelah rilis awal harga-harga konsumen di sejumlah daerah di Jerman menunjukkan perlambatan.

Inflasi Jerman Jadi “Game Changer”

Harga-harga konsumen di Saxony hanya naik 1.4% di bulan Januari pada laporan preliminer, lebih rendah dari 1.7% yang tercapai pada bulan Desember. Walaupun daerah lain, Brandenburg, menunjukkan pertumbuhan stabil; ada spekulasi kalau data inflasi Jerman yang akan diedarkan pada Selasa pukul 20:00 WIB, bakal mengecewakan.

“Data Inflasi dari Jerman akan menjadi ‘game changer‘ hari ini. Kita sudah melihat data dari Saxony cukup mengecewakan,” kata Sebastian Fellechner, analis di DZ Bank, pada Reuters. Menurutnya, “Jika data inflasi Jerman lebih lemah, (maka) kita akan memasuki mode konsolidasi, karena pertanyaan muncul mengenai dinamika inflasi berkelanjutan di Zona Euro.”

Perkara inflasi menjadi penting, karena sejumlah pejabat bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) berulangkali menyatakan akan tetap memprioritaskan pencapaian target inflasi dua persen dalam pertimbangan kebijakannya. Berdasarkan rilis Desember 2017, inflasi Zona Euro melandai hingga hanya mampu mencatat laju 1.4% YoY; dan jika kelesuan berlanjut, maka dimungkinkan ECB akan mempertahankan suku bunga di level rendah dalam kurun waktu lebih lama dari perkiraan. Jerman merupakan negara ekonomi terbesar di kawasan, sehingga data-datanya dapat berdampak bagi outlook yang lebih luas. ( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat :  Rifanfinancindo

Sumber : seputarforex