0

Gejolak Di Timur Tengah Dongkrak Harga Emas

Rifan Financindo Pekanbaru – Harga Emas melonjak ke level tertinggi tiga pekan pada hari Kamis lalu dan terus berlanjut hingga Jumat pagi ini (10/November) menyusul berbagai manuver Arab Saudi yang meningkatkan risiko bentrokan militer di Timur Tengah. Saat berita ditulis, Gold Spot XAU/USD naik 0.1% dari harga penutupan sebelumnya ke kisaran $1286.38, setelah naik lebih dari 0.3% kemarin. Harga Emas Antam juga naik lagi, dari Rp624,571 ke Rp625,580 per gram; dengan harga buyback beringsut dari Rp555,000 ke Rp557,000 per gram.

Gejolak Di Timur Tengah Dongkrak Harga Emas

Agenda Ekonomi Trump Terganjal

Terdapat beberapa latar belakang di balik kenaikan harga Emas ke level tertinggi tiga pekan. Pertama, pelemahan Dolar AS karena kasak-kusuk politik dalam negeri Amerika Serikat. Kedua, gejolak politik makin memanas di Timur Tengah.

Dolar AS melemah setelah munculnya laporan bahwa para anggota Senat AS dari partai Republik menyarankan untuk memundurkan pemberlakuan pemangkasan pajak korporasi AS dari 35% ke 20% hingga tahun 2019. Padahal, ini termasuk agenda ekonomi inti dalam janji kampanye Presiden AS Donald Trump tahun lalu.

Kemungkinan penundaan pemangkasan pajak yang dianggap kurang menyenangkan bagi pelaku pasar tersebut mendorong para investor saham dan aset-aset berisiko untuk melarikan dananya ke aset Safe Haven. Pasalnya, sebelumnya mereka telanjur berharap reformasi pajak Trump dapat diterapkan akhir tahun ini. Penundaan implementasi membuat pasar kembali ragu pada kemampuan Trump menjalankan janji-janji kampanyenya.

Manuver Saudi Tingkatkan Keresahan

Sementara itu, rangkaian peristiwa yang mengguncang Timur Tengah bermula ketika Saad Hariri mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan Perdana Menteri Libanon pada sebuah pidato di Riyadh, ibukota Arab Saudi, akhir minggu lalu. Libanon menuduh Saudi menyandera Hariri dalam upaya perebutan pengaruh politik dengan Iran. Arab Saudi menampik tuduhan tersebut, tetapi sejak akhir pekan lalu hingga hari ini, Hariri diduga masih berada di Saudi tanpa diketahui kondisinya.

Dalam periode yang sama, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman juga menggusur sejumlah tokoh-tokoh konservatif yang berseberangan dengan dirinya. Ia pun menyebut Iran melakukan agresi ke Arab Saudi dalam sebuah perbincangan informal, setelah sebuah misil buatan Iran ditembakkan oleh milisi Houthi dari Yaman ke arah Riyadh.

Ketegangan makin memuncak setelah pada hari Kamis, Arab Saudi mengirim notifikasi bagi warganya yang berada di Libanon agar meninggalkan negeri itu sesegera mungkin, serta bagi warganya di tempat lain agar menahan diri untuk tidak bepergian ke Libanon. Di sisi lain, mereka pun menghimbau pada dunia internasional agar menerapkan sanksi baru atas Iran.

Manuver-manuver Arab Saudi tersebut memicu keresahan. Akibatnya, banyak orang mulai memburu Emas di Timur Tengah. Menurut laporan World Gold Council yang dikutip BullionVaultpermintaan Emas di Iran naik lagi, dan pembelian untuk investasi pribadi di Turki meningkat nyaris tiga kali lipat. Namun demikian, penerapan pajak 5% di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mulai tahun depan, diperkirakan bisa menekan permintaan Emas di kawasan tersebut pada masa yang akan datang. ( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat :  ​Rifan financindo 

Sumber : seputarforex

Tinggalkan Balasan