Rifanfinancindo | Harga Emas Antam Naik Rp 2.000/Gram

Jakarta – Logam mulia atau emas batangan milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hari ini dijual Rp 663.000/gram. Nilai ini naik 2.000 dari hari Rabu (16/01) kemarin.

Demikian dikutip detikFinance dari situs perdagangan Logam Mulia Antam, Kamis (17/1/2019).

Sementara harga buyback atau pembelian kembali emas Antam hari ini turun 6.000 dibanding Senin menjadi Rp 581.000 Harga buyback ini berarti, jika Anda ingin menjual emas, maka Antam akan membelinya dengan harga tersebut.

 rifan-pekanbaru.com

.

Harga emas batangan tersebut sudah termasuk PPh 22 sebesar 0,9%. Bila ingin mendapatkan potongan pajak lebih rendah, yaitu sebesar 0,45% maka bawa NPWP saat transaksi.

Berikut rincian harga emas Antam hari ini:
Pecahan 1 gram Rp 663.000
Pecahan 5 gram Rp 3.135.000
Pecahan 10 gram Rp 6.205.000
Pecahan 25 gram Rp 15.405.000
Pecahan 50 gram Rp 30.735.000
Pecahan 100 gram Rp 61.400.000
Pecahan 250 gram Rp 153.250.000
Pecahan 500 gram Rp 306.300.000

January Effect Bikin IHSG Perkasa Sejak Awal Tahun

rifan-pekanbaru.com

Jakarta  Sejak awal tahun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan perkembangan yang positif. Lalu apa penyebabnya?

IHSG kini sudah bertengger di level 6.400an. Padahal di akhir 2018 IHSG berada di posisi 6.194. Jika dilihat dari awal tahun IHSG sudah menguat 3,9%.

Menurut Vice President Research Artha Sekuritas Indonesia Frederik Rasali di pasar modal saat ini tengah terjadi January Effect. Fenomena yang biasanya terjadi di awal tahun.

“Penguatan IHSG yang terjadi disebabkan oleh January Effect. Hal ini ada 2 penyebab yaitu IHSG sudah mengalami jenuh jual sepanjang tahun 2018 sehingga pada tahun 2019 ini banyak investor institusional yang mulai kembali masuk ke Indonesia,” terangnya kepada detikFinance, Kamis (17/1/2019).

January Effect sendiri merupakan fenomena di pasar modal yang membuat saham-saham bergerak naik di minggu-minggu pertama Januari. Hal itu terjadi biasanya karena para investor terutama fund manager melakukan penjualan saham di akhir tahun dan kembali belanja saham di awal tahun.

Menurut Frederik ada faktor kedua yang membuat IHSG begitu perkasa, yakni sikap Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed yang cenderung lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga acuan tahun ini.

Hal itu membuat para investor global menarik dananya dari dolar AS dan membuat nilai tukar rupiah lebih stabil. Alhasil berdampak juga ke pasar modal.

“Kestabilan tersebut membuat investor yakin currency exchange risk lebih rendah di tahun 2019 dibandingkan 2018,” tutupnya.

( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )
 
Lihat : Rifanfinancindo
 
Sumber : finance.detik