Harga Emas Cenderung Turun, Investor Menanti Rilis GDP AS

Rifan Pekanbaru – Setelah berusaha naik karena keraguan pelaku pasar pada kebijakan pajak Donald Trump, harga emas di sesi Asia pada hari Jumat (28/04) ini kembali melemah sejalan dengan kenaikan minat pasar terhadap aset yang lebih berisiko. Harga emas saat ini tengah menuju penurunan mingguan terbesar sejak bulan Maret yakni menurun sebesar 1.6 persen.

 Harga Emas Cenderung Turun, Investor Tunggu Rilis GDP AS

Saat berita ini diturunkan, harga emas spot diperdagangkan flat di level harga 1,265 Dolar AS dan harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Juni di kisaran harga 1,266 Dolar AS per troy ons. Sedangkan harga emas batangan milik PT Antam, Tbk melandai di level harga Rp 589,000.

Harga Emas Lemah Meski Data Ekonomi AS Mengecewakan

Selama sesi perdagangan hari Kamis malam kemarin, harga emas cenderung turun seiring penguatan mata uang Dolar AS. Hal ini terjadi meskipun beberapa rilis data ekonomi AS seperti data Durable Goods Orders dan Jobless Claims mengecewakan pasar.

“Kurangnya respon pasar pada rilis data ekonomi AS disebabkan oleh adanya komentar Presiden ECB, Mario Draghi yang melemahkan Euro,” kata Senior Market Strategist RJO Futures di Chicago. Mata uang Dolar AS merangkak naik setelah Euro menyentuh level rendah karena Draghi mengatakan bahwa dalam rapat ECB, pembuat kebijakan tidak membahas tentang hal-hal sehubungan dengan pelonggaran kebijakan moneter. Selain itu, kenaikan Dolar disebabkan pula oleh investasi bisnis AS yang meningkat selama kuartal pertama.

Ole Hansen, Kepala Analis Divisi Komoditas di Saxo Bank mengatakan bahwa pasar logam mulia emas kini sedang berada di fase koreksi, mengingat beberapa faktor pendorong naik harga si kuning mulai memudar.

“Kita telah melihat reli tajam pada bursa saham dan imbal hasil obligasi AS serta pada pekan ini tidak ada kabar tentang konflik di Korea Utara,” kata Ole Hansen.

Pelaku Pasar Tunggu Data GDP AS

Seperti yang diketahui bahwa para investor biasanya akan menggunakan logam mulia emas sebagai aset perlindungan terhadap ketidakpastian politik. Akan tetapi, ketika bursa saham dan imbal hasil obligasi cenderung naik maka minat investor pada aset ini lebih tinggi daripada aset safe haven seperti logam mulia emas.

Sementara itu, pelaku pasar tengah menunggu rilis data GDP AS yang diperkirakan oleh beberapa analis akan memberikan dampak signifikan pada pergerakan harga emas. Harga logam kuning bisa jadi akan rebound apabila rilis data GDP AS kuartal pertama tahun 2017 ini buruk, karena data GDP yang lemah bisa membuat the Fed lebih dovish dan menurunkan mata uang Dolar AS.(Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat :PT Rifan Financindo

Sumber : seputarforex