Harga Emas Flat, Nantikan Reformasi Pajak AS

Rifanfinancindo Pekanbaru – Harga Emas terpantau flat di perdagangan sesi Asia pada hari Senin, meskipun rilis data Non-farm Payroll AS pada Jumat lalu menguatkan ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Sejumlah kabar mengejutkan dari Arab Saudi pun cenderung hanya diamati saja oleh pelaku pasar.

Harga Emas - ilustrasi

Harga Emas Belum Jauh Dari Penutupan Jumat

Gold Spot XAU/USD masih berada di kisaran $1,270, tempatnya berakhir setelah mencatat -0.2% pada perdagangan pekan lalu. Harga Emas Antamdi LM Jakarta Pulogadung dicanangkan pada Rp623,562 per gram, sedangkan harga buyback berada pada Rp554,000 per gram.

Data Non-farm Payroll dari Amerika Serikat untuk bulan Oktober merekam pertambahan 261,000 pekerjaan. Angka tersebut lebih tinggi dibanding data bulan September, tetapi di bawah estimasi pasar yang dipatok pada 315,000. Meski demikian, Tingkat Pengangguran menurun ke 4.1%, level terendah sejak Desember 2000, sehingga probabilitas kenaikan suku bunga AS pada bulan Desember mendatang pun makin besar.

Kondisi ketenagakerjaan yang baik merupakan salah satu prasyarat kenaikan suku bunga. Sedangkan kenaikan suku bunga AS sendiri diprediksi dapat memperkuat kurs Dolar AS, serta berefek samping melemahnya harga Emas sebagai salah satu komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut di pasar internasional.

Reformasi Pajak Dituding Bebani Anggaran

Selain memantau probabilitas kenaikan suku bunga, pelaku pasar agaknya juga mengamati perjalanan Reformasi Pajak yang dirintis oleh Presiden AS Donald Trump. Pemangkasan Pajak Korporasi dari 35% ke 20% –salah satu agenda utama dalam Reformasi Pajak Trump– dituding akan memperparah defisit anggaran AS, sehingga sejumlah wakil rakyat dari partai Republik maupun Demokrat diketahui telah mengajukan keberatan atas diloloskannya proposal tersebut.

Trump berharap Reformasi Pajak ini akan menjadi kemenangan legislatif pertamanya, tetapi kesuksesan proposal belum dapat dipastikan. Jika sukses, maka kemungkinan akan mendongkrak besar-besaran performa pasar saham AS serta berimbas negatif bagi Emas; sebaliknya bila gagal, maka dapat menggerogoti reli saham-saham AS dalam beberapa bulan terakhir.

Gejolak Dari Arab Saudi Hingga Spanyol

Sepanjang akhir pekan, berita-berita mengenai aksi Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, mewarnai headline. Putra Mahkota yang baru dilantik pada Juni 2017 ini terus melakukan perombakan yang diharapkannya dapat mereformasi negeri.

Ia mencekal sejumlah pejabat tinggi dan pengusaha terkemuka berdarah bangsawan atas berbagai tuduhan seperti mangkir bayar pajak, suap, hingga pencucian uang. Kabar paling menghebohkan adalah dijeratnya Alwaleed bin Talal, miliuner pemilik Kingdom Holdings, konglomerasi keuangan top Saudi yang memiliki saham di Citigroup, News Corp, TimeWarner, Twitter, Apple, AOL, dan lain sebagainya.

Dari Spanyol, langkah tegas Pemerintah meredam gerakan pro-kemerdekaan di Catalunya, disambut hangat oleh pasar. Mantan Gubernur Catalunya, Carles Puidgemont, ditahan bersama empat orang lainnya di Brussels, meski kini telah dilakukan pembebasan bersyarat. Perdana Menteri Belgia, Charles Michel, menginstruksikan stafnya untuk tutup mulut mengenai hal ini, disinyalir karena khawatir akan mengobarkan gerakan separatis Flemish di negaranya sendiri. ( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat :  ​Rifanfinancindo 

Sumber : seputarforex