Harga Emas Hanyut Di Tengah Lautan Data Ekonomi AS

PT Rifan Financindo Pekanbaru – Harga Emas kembali melandai pada awal sesi perdagangan Asia Senin pagi ini (30/Oktober), setelah anjlok ke level terendah sejak bulan Agustus pada Jumat lalu. Spot Gold XAU/USD diperdagangkan -0.18% ke 1271.75 saat berita ditulis. Namun, harga Emas Antam terpantau naik dari Rp621,544 pada hari Jumat ke Rp626,589 per gram; dan buyback dipatok lebih tinggi Rp5000 pada Rp557,000 per gram.

Harga Emas

GDP AS Tangguh Hadapi Badai

Pada hari Jumat, Gross Domestic Product (GDP) Amerika Serikat yang mengukur pertumbuhan ekonomi kuartal III/2017, dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 3% QoQ (preliminer). Laju pertumbuhan tersebut hanya sedikit di bawah pertumbuhan 3.1% yang tercapai pada kuartal sebelumnya, serta jauh lebih tinggi dibanding estimasi awal 2.5%. Tetap tangguhnya pertumbuhan GDP menandakan bahwa rentetan musibah badai yang melanda beberapa negara bagian sepanjang kuartal III lalu, tidak melumpuhkan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Ke depan, para investor akan mengamati rapat kebijakan bank sentral AS (FOMC Meeting) yang akan digelar antara hari Selasa-Kamis mendatang. Tak ada jadwal konferensi pers pasca rapat kebijakan tersebut, tetapi pasar akan tetap akan mencari petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Laporan ketenagakerjaan AS, terutama Nonfarm Payroll (NFP), yang rilis hari Jumat juga bisa menjadi salah satu trigger bagi pergerakan pasar dalam jangka pendek.

Trump Condong Pada Powell

Di sisi positif bagi Emas, indeks Dolar AS terpantau menurun tipis pagi ini dari 94.911 ke 94.763. Pasalnya, beredar kabar bahwa Presiden Donald Trump lebih condong untuk menominasikan Jerome Powell guna menggantikan Janet Yellen sebagai Ketua Federal Reserve tahun depan. Pandangan Powell dalam hal kebijakan moneter dikenal centrist; meski ia lebih hawkish daripada Yellen, tetapi lebih dovish ketimbang kandidat pesaing terdekatnya, John Taylor.

Sebagaimana diketahui, jika pimpinan FED baru ternyata berpandangan lebih hawkish (condong untuk menaikkan suku bunga), maka pengaruhnya dikhawatirkan akan bearish terhadap emas. Sedangkan bila pimpinan FED baru ternyata lebih dovish (cenderung enggan menaikkan suku bunga), maka diekspektasikan akan berdampak bullish bagi emas. Hal ini berhubungan dengan opportunity cost dan imbal hasil yang dipertimbangkan investor ketika memilih akan berinvestasi dalam aset finansial apa. ( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat :  ​ PT Rifan Financindo 

Sumber : seputarforex