Harga Emas Masih Lemah Meski Ada Potensi Konflik Geopolitik

Rifan Pekanbaru – Harga emas di sesi Asia pada hari Selasa (07/03) terpantau mengalami penurunan meski ada potensi konflik geopolitik. Hal ini terjadi akibat adanya indikasi serta sinyal kenaikan tingkat suku bunga AS pada bulan Maret yang semakin menguat. Saat berita diturunkan, pair XAU/USD diperdagangkan di level harga 1,225 Dolar AS. Harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam), Tbk menurun lagi menjadi Rp 586,000 daripada sebelumnya di level harga Rp 589,000.

Harga Emas Masih Lemah Meski Ada Potensi Konflik Geopolitik

Pada Comex New York Mercantile Exchange, harga emas berjangka untuk pengiriman bulan April menurun menjadi 1,225 Dolar AS per troy ons. Sedangkan harga perak futures untuk pengiriman bulan Mei berada di level harga 17.78 Dolar AS per troy ons;dan harga tembaga futures untuk pengiriman bulan Mei ke kisaran harga 2.6595 Dolar AS per pound, mengalami kenaikan sebesar 0.28 persen.

Harga Emas Tertekan Peluang Kenaikan Suku Bunga AS

Selama sesi perdagangan kemarin, harga emas terpantau menurun di tengah kuatnya Dolar AS karena the Fed. Saat ini probabilitas FED rate hike bulan Maret menurut Fed Watch Tool milik CME Group naik menjadi 86.4 dari sebelumnya 80 persen.

Para ekonom di Standard Chartered memperkirakan akan ada tiga kali FED rate hike pada tahun 2017 ini yakni di bulan Maret, Juni dan Desember. Selain itu, mereka memprediksi kenaikan tingkat suku bunga AS akan terjadi sebanyak dua kali pada tahun 2018 mendatang.  Seperti yang diketahui, kenaikan tingkat suku bunga AS akan membuat mata uang Dolar AS menguat sehingga menyebabkan harga logam mulia emas menjadi mahal bagi pemegang mata uang asing lain.

“Naiknya optimisme pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga AS oleh The Fed bulan Maret telah membuat harga logam mulia emas terpuruk,” ujar Lukman Otunuga, analis di FXTM. Ia menilai, meskipun kemunculan risiko-risiko geopolitik di Asia Timur dan ketidakpastian politik Eropa bisa jadi mampu mendukung harga logam mulia ini, harga emas masih akan dibayangi prospek kenaikan suku bunga AS dan mengalami tekanan lebih lanjut.

Menurut Robin Bhar, seorang analis di Reuters, setelah adanya komentar petinggi The Fed yang dianggap hawkish, pelaku pasar kini akan menunggu rilis data NFP AS. Selain itu, pasar menantikan keputusan ECB terkait kebijakan moneter yang akan diambil dan prospek kebijakan sehubungan dengan tapering dan Quantitative Easing (QE).(Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat :  PT.Rifan Financindo

Sumber : seputarforex