PT RIFAN FINANCINDO PEKANBARU | Harga Emas Menanjak Lantaran Efek UU Pajak AS Diragukan

PT RIFAN FINANCINDO PEKANBARU – Harga Emas kembali merayap naik pada sesi perdagangan Rabu pagi ini (20/Desember), meski draft akhir mengenai perombakan UU Pajak AS sudah diloloskan oleh House of Representative. Legislasi yang memuat pemangkasan Pajak Korporasi AS tersebut diharapkan akan lolos juga dalam voting di Senat hari ini, serta siap ditandatangani Presiden Donald Trump sebelum akhir pekan. Namun demikian, semakin banyak pihak meragukan apakah perombakan tersebut benar-benar efektif untuk menggenjot pertumbuhan dan inflasi di negeri Paman Sam tahun depan. Karenanya, menjelang liburan, lebih banyak investor cenderung melepas Dolar AS dan membeli logam mulia.

Saat berita ditulis, Gold Spot XAU/USD diperdagangkan dalam kondisi naik 0.21% di kisaran 1264.20. Emas Antam juga tercatat lebih tinggi Rp3000 dibanding harganya pada hari Senin; kini Rp620,000 per gram dengan harga buyback dipatok pada Rp552,000 per gram.

Harga Emas Menanjak Lantaran Efek UU Pajak AS Diragukan

Pemangkasan Pajak AS Tak Seheboh Ekspektasi

Berita-berita mengenai upaya pengesahan legislasi pajak di Amerika Serikat mewarnai headline pekan ini, sebelum mayoritas pelaku pasar “tutup buku” menjelang libur Natal dan Tahun Baru. Legislasi tersebut merupakan item penting dalam agenda ekonomi Presiden Trump dan menjadi fokus pasar keuangan dunia, karena jika berhasil dan berfungsi sebagaimana diperkirakan, maka diharapkan dapat mendorong ekspansi korporasi AS di dalam negeri, menyerap lebih banyak tenaga kerja, dan mendongkrak inflasi; walaupun di saat yang sama akan memperbesar defisit anggaran negara.

Sebelumnya, upaya untuk menyusun draft akhir yang dapat disepakati oleh House of Representative maupun Senat, berlangsung cukup sengit. Akan tetapi, setelah disetujui draft akhir, ternyata pemangkasan Pajak Korporasi lebih rendah dari ekspektasi; bukannya dipangkas dari 35% menjadi 20%, melainkan hanya menjadi 21%. Selain itu, pemotongan Pajak Individual juga dijadwalkan hanya berlangsung sementara saja hingga akhir 2025, bukan untuk selamanya; sementara persyaratan bagi perseorangan untuk mendapatkan pengurangan pajak, justru meningkat.

“Setahun yang lalu, banyak kehebohan (tentang repatriasi Dolar setelah reformasi pajak). (Namun) sekarang ini seperti gagal mencapai ekspektasi,” kata Jane Foley, Pakar Strategi Forex di Rabobank, pada Reuters. Ia mewanti-wanti mengenai outlook ekonomi AS yang juga menahan laju Dolar, “Sulit untuk mengharapkan kenaikan signifikan pada yield Dolar AS ketika inflasi rendah. Ini adalah kendala bagi nilai Dolar.

Menjelang Libur Panjang

Dengan masih diragukannya perombakan pajak, ditambah liburan panjang sudah di depan mata, maka para pelaku pasar agaknya merasa ragu untuk mendorong Dollar ke arah yang lebih bullish. Sebagaimana disampaikan oleh Viraj Patel, Pakar Strategi Forex di ING, “Reformasi pajak akan menjadi salah satu sudut pandang penting bagi pasar pekan ini…(tetapi) tak ada yang akan membuka posisi (trading) besar sebelum akhir tahun.

Keraguan investor atas Dolar AS tersebut cenderung menguntungkan bagi Emas, sebagai salah satu komoditas yang harganya menjadi relatif lebih murah bagi pengguna mata uang lain. Apalagi, peningkatan pembelian Emas di China guna persiapan perayaan Imlek pada pertengahan Februari mendatang, sudah mulai nampak.   ( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat :  PT Rifan Financindo 

Sumber : seputarforex