Harga Emas Meningkat, Gelagat Buruk Merebak Dari Amerika

Rifanfinancindo Pekanbaru – Harga Emas menanjak pada sesi perdagangan Asia pagi ini (26/Oktober) dengan didukung oleh pelemahan yang dialami oleh Dolar AS. Namun demikian, semakin kuat disinyalir kalau Presiden AS Donald Trump akan memilih pimpinan bank sentral baru yang condong pada suku bunga lebih tinggi –hal mana dapat menjatuhkan nilai logam mulia di pasar internasional bila benar-benar terjadi.

Harga Emas Meningkat - ilustrasi

Kurs Dolar AS Terkoreksi

Koreksi Dolar AS kali ini terlepas dari bagusnya data-data ekonomi Amerika Serikat yang dipublikasikan tadi malam. Data Core Durable Goods Orders untuk bulan September naik 0.7% month-over-month (MoM), melampaui ekspektasi kenaikan 0.5%. Sedangkan New Home Sales untuk bulan yang sama meningkat ke 667,000, dengan pencapaian periode sebelumnya direvisi naik ke 561,000.

Menghadapi data-data yang mengindikasikan kuatnya kondisi ekonomi ini, indeks Dolar AS justru tergelincir dari 93.772 ke 93.737 pada hari Rabu, dan melorot lagi ke 93.546 saat berita ditulis. Sejalan dengan kemunduran barometer kekuatan Dolar AS tersebut, Gold Spot XAU/USD pagi ini naik 0.2% ke 1279.92.

Di LM Jakarta Pulogadung, harga Emas Antam pulih ke tingkat harga yang sama dengan Jumat lalu, yaitu pada Rp627,598 per gram, setelah sempat merosot di awal pekan. Harga buyback pun kembali ke Rp558,000 per gram.

Tiadanya basis fundamental yang kuat membuat pemulihan harga Emas kali ini dikhawatirkan takkan berlangsung lama. Sentimen di pasar Emas masih tertekan oleh kemungkinan terpilihnya pimpinan bank sentral AS baru yang lebih bersemangat menaikkan suku bunga dibanding pimpinan saat ini, Janet Yellen, yang akan mengakhiri periode jabatan pada Februari 2018.

Khawatir Taylor Terpilih

Sebagaimana diketahui, jika pimpinan FED baru ternyata berpandangan lebih hawkish (condong untuk menaikkan suku bunga), maka pengaruhnya dikhawatirkan akan bearish terhadap emas. Sedangkan bila pimpinan FED baru ternyata lebih dovish (cenderung enggan menaikkan suku bunga), maka diekspektasikan akan berdampak positif bagi emas.

Saat ini, ada lima nama kandidat yang sudah dikantongi oleh Trump, tetapi santer terdengar kabar kalau kandidat berpandangan hawkish-lah yang akan terpilih. Sebuah laporan yang beredar di media AS menyebutkan bahwa Trump meminta para Senator dari Partai Republik untuk memilih antara Jerome Powell atau John Taylor dalam sebuah pertemuan tertutup di hari Selasa, sembari setengah bercanda.

Baik Powell maupun Taylor memiliki pandangan yang lebih hawkish ketimbang Yellen, tetapi pasar terutama khawatir kalau Taylor terpilih. Dalam sebuah paper di tahun 1993, akademisi dari Universitas Stanford tersebut mencetuskan “Taylor Rule” yang menghimbau suku bunga AS pada tingkat lebih tinggi dibandingkan sekarang; meskipun ia boleh jadi merubah pikirannya sesuai dengan kondisi ekonomi terkini.

“Spekulasi tentang suku bunga lebih tinggi di AS telah membebani harga Emas,” ungkap lembaga keuangan raksasa asal Jerman, Commerzbank, dalam ulasan pasar terbarunya yang dikutip BullionVault. Dijelaskan bahwa “Apabila (Trump) benar-benar memilih Taylor, Emas kemungkinan akan jatuh tajam. Namun, dukungan (Taylor) pada pemangkasan pajak (yang direncanakan oleh Trump) boleh jadi akan membuatnya ragu menaikkan suku bunga.”