RIFAN FINANCINDO | Harga Emas Naik Setelah Turun Tiga Sesi Beruntun

RIFAN FINANCINDO – Harga emas berjangka pada sesi perdagangan Senin ditutup lebih rendah dalam tiga sesi berturut-turut. Hal ini membuat harga emas menyentuh level terendah dalam lima minggu. Hari Selasa ini (24/April), harga emas naik, tetapi masih rentan imbas negatif penguatan Dolar AS dan kenaikan suku bunga acuan obligasi AS.

Harga Emas

Setelah Merosot Ke Terendah Lima Minggu

Minggu lalu, harga emas berjangka turun drastis sebesar 0.7%. Penurunan itu menjadi yang pertama dalam tiga minggu. Namun, tren masih berlanjut; harga emas tercatat sempat turun sebesar 1.1%, atau $14.30 menjadi $1,324 per ons pada hari Senin. Pergerakan tiga sesi tersebut menandai harga penutupan paling rendah sejak 21 Maret 2018 dan penurunan harian terburuk sejak 12 April 2018.

Saat berita ini ditulis (24/April), harga kontrak emas berjangka menunjukkan tren naik. Harga emas berjangka terpantau naik 0.33% atau $4.40 menjadi 1328.40. Sementara itu, jika dibandingkan dengan kemarin, harga emas Antam di LM Jakarta Pulogadung tidak mengalami perubahan. Harga emas Antam di LM Jakarta Pulogadung saat ini tetap pada harga Rp653,000 per gram dengan harga buyback sebesar Rp585,000 per gram.

Dolar dan Yield Obligasi AS Terus Menanjak

Indeks Dolar AS tercatat naik 0.6% pada 90.72. Hal ini menurunkan ketertarikan investor pada mata uang lain kepada komoditas berdenominasi Dolar, termasuk emas. Di sisi lain, yield obligasi yang mencerminkan kenaikan ekspektasi inflasi, melaju lebih tinggi pada Senin (23/April). Yield obligasi 10 tahunan, membubung tinggi ke sekitar 2.984%, setelah melompat ke level tertinggi sejak Januari 2014 pada 2.956% di akhir pekan lalu.

Spekulasi di kalangan trader membuat pasar mulai memperhitungkan empat kali kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada tahun 2018, lebih tinggi dibandingkan dengan tiga sinyal yang diberikan oleh pembuat kebijakan. Pada Jumat lalu, para trader di pasar Fed Fund Futures memperkirakan peluang sebesar 38% untuk empat kali kenaikan suku bunga pada tahun ini, dibandingkan pada 11 April di mana peluang sebesar 24.5%.

Tingginya yield obligasi karena spekulasi kenaikan suku bunga AS dapat mengurangi ketertarikan investasi pada emas. Meskipun peningkatan inflasi dapat mendorong investor beralih ke emas sebagai hedging, tetapi sejauh ini kenaikan yield masih membebani harga emas.

Sementara itu, dalam perdagangan logam lain, harga Perak jatuh 57.6 sen, atau 3.4% ke $16.587 per ons, berbalik turun dari level tinggi dua setengah bulan yang dicapai pada minggu lalu. Penurunan tersebut tercatat sebagai yang tertajam sejak 3 Juli 2017, sekaligus menjadi yang terpanjang sejak pertengahan Maret 2018. Padahal, minggu lalu harga perak menunjukkan kenaikan sebesar 3%.

“Meskipun harga komoditas kembali menguat pada sesi terakhir, harga emas nyatanya gagal ambil bagian,” kata Richard Perry, seorang analis pasar dengan Hantec Markets. Lebih lanjut Perry mengatakan, peningkatan ekspektasi inflasi, seharusnya menjadi pendorong untuk harga emas, di mana hal ini sering dianggap sebagai alat hedging melawan inflasi. Namun, menguatnya Dolar AS sudah tentu berdampak negatif lebih besar terhadap emas.

Sekarang, setelah emas turun di bawah support $1,333.50, Perry mematok support jangka pendek harga emas berikutnya pada $1,321.

Permintaan Emas Menyusut Bersama Denuklirisasi Korea Utara

Menurut Chintan Karnani, kepala analis pasar di Insignia Consultants, harapan tentang denuklirisasi di semenanjung Korea, membuat permintaan akan emas menurun. Hal itu juga turut andil dalam penurunan harga logam mulia.

Sebelumnya telah dikabarkan bahwa Korea Utara di bawah kepemimpinan Kim Jong-un bersedia menunda uji coba senjata nuklir dan rudal balistiknya. Hal ini tentu membuat tensi geopolitik mereda, meskipun Trump skeptis kepada Kim. ( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat :  Rifan Financindo

Sumber : seputarforex