Harga Emas Sideways, Pelaku Pasar Tunggu Langkah Trump Selanjutnya

Rifan Pekanbaru – Harga emas di sesi Asia pada hari Senin (20/02) terpantau turun tipis, tapi cenderung flat sejalan dengan pelemahan mata uang Dolar dan sektor ekuitas AS. Saat berita ini diturunkan, pair XAU/USD berada di level harga 1,234 Dolar AS. Harga emas batangan pecahan 1 gram milik PT Aneka Tambang (Antam), Tbk naik dari Rp 590,000 menjadi Rp 591,000.

 Harga Emas Sideways, Pelaku Pasar Tunggu Langkah Trump Selanjutnya

Pada Comex New York Mercantile Exchange, harga emas untuk pengiriman bulan April melandai sebesar 0.38 ke level harga 1,234 Dolar AS per troy ons. Sedangkan harga perak futures untuk pengiriman bulan Mei berada di kisaran 18.01 Dolar AS per troy ons;dan harga tembaga futures untuk pengiriman bulan Mei ke level harga 2.7290 Dolar AS per pound mengalami kenaikan sebesar 0.33 persen.

Bullish Emas Dipicu Ketidakpastian Ekonomi dan Politik Global

Selama sesi perdagangan kemarin, harga emas stagnan di tengah penurunan di pasar ekuitas global setelah pada dua sesi sebelumnya meninggi. Melandainya sektor ekuitas ini disebabkan oleh kegelisahan sebagian besar pelaku pasar tentang rencana kebijakan Presiden AS, Donald Trump.

“Harga emas pekan kemarin ditutup naik di tengah volatilitas tinggi pada pasar ekuitas dan ketidakpastian politik global, kedua hal ini selanjutnya mampu mendorong permintaan emas sebagai aset safe haven”, kata Eugen Weinberg, analis di Commerzbank.

Harga emas sudah naik sebesar tujuh persen sejak the Fed menaikkan tingkat suku bunga-nya pada 14 Desember tahun lalu. Bahkan, outlook kenaikan suku bunga AS oleh Janet Yellen dalam testimoninya beberapa waktu lalu tidak mempengaruhi tingginya minat investor pada emas. Para investor ini sepertinya tidak yakin dengan outlook Yellen tersebut. Buktinya, probabilitas FED rate hike untuk bulan Maret menurut FED Watch Tool tidak berubah yakni hanya sebesar 34 persen. Berdasarkan survei Bloomberg, trader dan analis emas meyakini outlook harga logam mulia emas selama delapan pekan ke depan tetap bullish.

Keresahan pelaku pasar karena pemilu Belanda, Perancis, dan Jerman serta kemunculan tanda-tanda sehubungan dengan keinginan keluar dari Uni Eropa juga menjadi salah satu faktor harga emas naik. Menurut Senior Vice President di BB&T Wealth Management, Walter Hellwig, adanya indikasi untuk meninggalkan Uni Eropa akan menyebabkan potensi ketidakstabilan di Eropa, sehingga harga aset Safe Haven seperti emas cenderung meningkat. Ia menambahkan, harga emas kini juga terdukung oleh kecemasan tentang defisit anggaran AS karena kebijakan fiskal Trump diprediksi akan agresif.(Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat :  Rifan Financindo

Sumber : seputarforex