PT RIFAN FINANCINDO PEKANBARU | Harga Emas Stabil Di Level Tinggi, Ditopang Tensi Geopolitik

PT RIFAN FINANCINDO PEKANBARU – Hingga Rabu (06/Juni) sore ini, harga emas bertahan di level tinggi yang terbentuk sejak kemarin. Lemahnya Dolar akibat tensi geopolitik dan penurunan yield obligasi pemerintah AS, menahan harga emas dari penurunan tajam. Namun dalam jangka pendek, Outlook harga emas masih dapat melemah sehubungan dengan kenaikan suku bunga The Fed.

emas-bar

Harga emas spot pada pukul 13:35 siang tadi naik 0.3 persen ke $1,298.98 per ons. Sedangkan emas futurs di Comex New York untuk pengiriman bulan Agustus naik 0.1 persen ke $1,303.10 per ons. Harga emas ANTAM ikut naik Rp3,000 dari harga kemarin, menjadi Rp650,000 per gram dengan Buy Back Price Rp576.000 per gram.

Tensi Geopolitik Hanya Menahan Penurunan Harga Emas

Dolar AS memang sedang melemah hari ini sehubungan dengan masalah bea impor AS yang belum selesai. Jika China menawarkan negosiasi dengan cara membeli produk-produk AS senilai $70 miliar, lain halnya dengan Meksiko. Negara jiran AS tersebut mengancam akan menerapkan bea impor yang sama terhadap barang-barang AS, seperti daging babi dan Bourbon, apabila Trump tetap nekat memberlakukan bea impor baja dan alumunium.

Menurut Mark To, Kepala Riset Wing Fung Financial di Hong Kong, tensi geopolitik hanya menyediakan penguatan terbatas bagi harga emas. Pasalnya, pemulihan ekonomi AS berpotensi membuat bank sentral menaikkan tingkat suku bunganya kembali tahun ini. Hal itu akan menguatkan Dolar AS dan sebaliknya, harga emas akan menurun. “Level $1,300 akan menjadi level yang akan dikitari oleh harga emas saat ini,” kata To.

Senada dengan Mark To, Standard Chartered memandang fenomena tersebut sebagai sinyal beragamnya minat para investor terhadap emas. Dalam catatannya, Standard Chartered menuliskan bahwa tensi geopolitik yang terjadi saat ini hanya berfungsi untuk menahan harga emas dari penurunan lebih jauh, ketimbang melambungkannya.

Investor Buru Obligasi Italia

Selain tensi geopolitik, menurunnya yield obligasi US Treasury telah mendorong Indeks DXY yang ke posisi 93.705. Hal itu terjadi karena para investor lebih memilih untuk memburu yield obligasi pemerintah Italia, setelah PM baru negara tersebut berjanji untuk mempertahankan keanggotaan di Zona Euro.

PM baru Italia, Giuseppe Conte, menjanjikan perubahan besar bagi Italia tanpa meninggalkan Zona Euro. Di samping itu, agenda lain Conte seperti pemotongan pajak dan peningkatan anggaran kesejahteraan secara tak langsung, membuat obligasi pemerintahnya menjadi lebih menarik bagi para investor, sehingga membuat mata uang Euro menguat.  ( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )

Lihat : PT Rifan Financindo

Sumber : seputarforex