RIFAN FINANCINDO PEKANBARU | Harga Emas Stabil Di Tengah Potensi Fed Hike Dan Perang Dagang

RIFAN FINANCINDO PEKANBARU – Harga emas stabil di level rendah dengan pergerakan naik yang terbatas pada hari Senin (04/Jun), menjelang sesi Eropa sore ini. Kenaikan harga emas terhalang oleh penguatan Dolar AS akibat besarnya potensi kenaikan suku bunga The Fed (Fed Hike). Namun, penguatan Dolar AS tersebut juga terbatas karena kekhawatiran pasar akan perang dagang.

emas-chunky

Emas spot hampir tidak berubah di harga $1,292.96 per ons pada pukul 10:40 pagi tadi. Sebelumnya, harga emas spot berada di level terendah sejak tanggal 23 Mei di harga $1,289.12. Sementara itu, harga emas futures di Comex New York untuk pengiriman bulan Agustus turun 0.2 persen ke angka $1,297.20 per ons. Harga emas ANTAM turun Rp1,000 dari harga penutupan minggu lalu, dan diperdagangkan di harga Rp648,000 per gram hari ini dengan buyback price Rp576,000 per gram.

Penghalang Kenaikan Harga Emas

Analis ANZ, Daniel Hynes, mengatakan bahwa pemberat harga emas untuk naik adalah data ekonomi AS yang lebih baik daripada ekspektasi, dan memudarnya kekhawatiran geopolitik khususnya Italia. Seperti yang diberitakan minggu lalu, pertumbuhan pasar tenaga kerja AS cukup gemilang di bulan Mei lalu. Non Farm Payroll AS naik di atas ekspektasi dan tingkat pengangguran turun drastis sampai ke 3.8 persen. Kondisi semacam ini tentu membuka lebar peluang kenaikan suku bunga AS bulan ini.


Sejumlah risiko geopolitik (politik Italia) memang sedikit memudar… Ini akan membuat harga emas sangat kesulitan untuk naik,” kata Hynes.


Emas Masih Punya Harapan Di Tengah Perang Dagang

Kenaikan suku bunga akan memudarkan kilau logam mulia, artinya harga emas akan turun jika Dolar AS menguat. Wajar jika investor akan lebih memilih Dolar AS ketimbang membeli emas. Namun, Daniel Hynes menambahkan jika potensi perang dagang antara AS dengan China dan negara-negara lainnya bisa jadi harapan untuk kenaikan harga emas.

China Ancam Batalkan Kesepakatan

China memperingatkan AS bahwa kesepakatan apapun yang telah mereka capai akan dicabut, jika Washington tetap ngotot mengimplementasikan bea impor dan mengingkari perjanjian-perjanjian dagang lainnya. Peringatan tersebut muncul di ronde terakhir pertemuan yang membahas perdagangan kedua negara di Beijing pada hari Minggu kemarin.

Eropa Dan Kanada Pun Berang

Tak hanya dengan China, sehari sebelumnya, negara-negara jiran AS juga berang terhadap kebijakan perdagangan pemerintahan Trump. Pimpinan negara-negara yang punya hubungan dekat dengan AS seperti Jerman, Kanada, dan Meksiko, melayangkan teguran keras serta meminta pembatalan bea impor baja 25 persen dan bea impor aluminium 10 persen.

Dilansir New York Times, Kanselir Jerman Angela Merkel menyebut bahwa bea impor yang akan diterapkan AS merupakan bentuk pelanggaran hukum dan bisamembahayakan semua pihak. Sedangkan PM Kanada Justin Trudeau menyebutnya sebagai kebijakan yang ngawur dan akan mempertimbangkannya sebagai ancaman terhadap keamanan nasional Kanada. Oleh sebab itu, pertemuan G7 minggu depan di Quebec diperkirakan akan memanas dengan pokok bahasan ini.  ( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )

Lihat : Rifan Financindo

Sumber : seputarforex