Harga Emas Terangkat Eskalasi Risiko Konflik Geopolitik

Rifan Pekanbaru – Kecemasan pelaku pasar sehubungan dengan potensi konflik geopolitik karena peluncuran misil balistik oleh Korea Utara mendorong aset safe haven seperti emas mengalami kenaikan. Harga emas di sesi Asia pada hari Rabu (05/07) ini terpantau sedikit meningkat.

 Harga Emas Terangkat Eskalasi Risiko Konflik Geopolitik

Harga Emas Merangkak Naik Setelah Uji Coba Misil Korea Utara

Uji coba misil balistik ICBM Korut kali ini dilakukan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan AS dan menjelang acara KTT G20 di Hamburg, Jerman. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, kemarin menyatakan bahwa peluncuran misil sangat berhasil. Selain itu, Kim Jong Un menegaskan, tidak akan ada negosiasi untuk menghentikan usaha uji coba senjata dalam bentuk apapun dengan Amerika Serikat.

Dikutip dari Reuters, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan, uji coba senjata Korut yang bertepatan dengan hari Kemerdekaan AS menunjukkan eskalasi ancaman baru terhadap negeri Paman Sam dan sekutunya. Negara AS, China, Korea Selatan, dan Jepang dikabarkan akan melakukan diskusi terkait cara penanggulangan peluncuran misil Korut tersebut.

Stephen Innes, analis broker OANDA di Singapura berpendapat, “Belum terlihat ada tanda-tanda sinyal buyemas yang kuat karena hal tersebut, akan tetapi langkah Korea Utara untuk melakukan uji coba senjata telah menghentikan keterpurukan harga emas yang berlangsung pada sesi perdagangan hari Senin lalu”.

Emas Berpotensi Naik Lagi Karena Donald Trump

Saat berita ini ditulis, harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Agustus meningkat sebesar 0.62 persen ke level harga 1,226 Dolar AS per troy ons dan harga emas spot XAU/USD naik 0.33 persen ke kisaran harga 1,227 Dolar AS. Sedangkan harga emas batangan pecahan 1 gram bersertifikat Logam Mulia milik PT Aneka Tambang diperdagangkan di level Rp 584,000 dan harga buy back Rp 525,000.

Selain peluncuran misil balistik, menurut analis NAB, John Sharma, potensi adanya perselisihan pendapat dalam hal perdagangan, investasi, dan keamanan antara Presiden AS, Donald Trump dengan petinggi negara lain dapat memberikan dukungan terhadap pergerakan harga emas. Akan tetapi, Sharma menilai, ekspektasi tinggi kenaikan imbal hasil obligasi AS bisa jadi membatasi peningkatan harga aset tidak berimbal bunga seperti emas. Sebelumnya, Yield obligasi AS menanjak signifikan setelah data manufaktur AS naik dan hal ini mendorong spekulasi Federal Reserve akan kembali meningkatkan suku bunga-nya tahun ini.(Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat : Rifan Financindo

Sumber : seputarforex