Harga Emas Tergelincir, Terimbas Penguatan Dolar Karena The Fed

Rifan Pekanbaru – Para investor dan trader emas harus dihadapkan dengan realita tingginya probabilitas kenaikan tingkat suku bunga AS pada bulan Maret ini. Oleh karenanya, harga emas di sesi Asia pada hari Kamis ini (02/03) terpantau turun sejalan dengan penguatan mata uang Dolar AS. Saat berita ini ditulis, pair XAU/USD diperdagangkan di kisaran level harga 1,246 Dolar AS. Harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam), Tbk melandai ke level harga Rp 592,000 daripada sebelumnya di kisaran Rp 593,000.

Harga Emas Tergelincir, Terimbas Penguatan Dolar Karena The Fed

Pada Comex New York Mercantile Exchange, harga emas berjangka untuk pengiriman bulan April turun sebesar 0.24 persen menjadi di level 1,247 Dolar AS per troy ons. Sedangkan harga perak futures untuk pengiriman bulan Mei berada di kisaran level harga 18.44 Dolar AS per troy ons ;dan harga tembaga futures untuk pengiriman bulan Mei ke level harga 2.739 Dolar AS per pound, mengalami kenaikan sebesar 0.13 persen.

Harga emas telah menurun dalam dua sesi berturut-turut di tengah menguatnya mata uang Dolar AS dan kenaikan saham AS. Kondisi tersebut utamanya dipicu oleh peluang kenaikan tingkat suku bunga AS yang melonjak akibat pernyataan hawkish pejabat the Fed. Perlu diketahui, kenaikan tingkat suku bunga AS oleh the Fed akan mendorong Dolar menguat dan hal ini menyebabkan harga emas cenderung menurun.

Harga Emas Dibayangi Tingginya Ekspektasi Rate Hike

Menurut data survei Reuters, probabilitas FED rate hike bulan Maret melonjak ke 67.5 persen dari sebelumnya hanya 30 persen. Bahkan berdasarkan analisa Bloomberg, kemungkinan the Fed untuk menaikkan suku bunga-nya pada bulan ini adalah sebesar 80 persen, naik tajam dari prediksi beberapa waktu lalu yang hanya sebesar 52 persen.

“Penurunan emas terjadi akibat adanya aksi jual logam mulia ini karena pelaku pasar bertanya-tanya dan mencari tahu bagaimana persentase peluang FED rate hike bisa naik sangat drastis,” ucap Phillip Streible, analis di RJO Futures, Chicago. Streible berpendapat, para investor kini sedang mencerna informasi sehubungan dengan hal itu dan mencari beberapa kabar terkini terkait rilis data ekonomi AS. Rilis data ekonomi kemarin menunjukkan bahwa tingkat inflasi AS selama bulan Januari naik 0.4 persen. Kenaikan ini adalah kenaikan terbesar sejak bulan Februari tahun 2013 silam.

Sementara itu, pelaku pasar dikecewakan pidato Donald Trump yang tidak menyebutkan rincian seputar rencana kebijakannya. Trump kembali gagal memenuhi ekspektasi pasar untuk memaparkan detail pada reformasi pajak dan anggaran belanja pemerintah untuk pembangunan infrastruktur. Meski demikian, isi pidato Presiden AS, Donald Trump dipandang bisa menimbulkan risiko lebih lanjut sehingga permintaan emas masih akan terdukung dan harga emas tidak anjlok secara signifikan.(Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat :  Rifan Financindo

Sumber : seputarforex