Harga Emas Terpukul Tingginya Minat Risiko Investor

Pekanbaru – Harga emas di sesi Asia pada hari Jumat (27/01) terpantau mengalami penurunan signifikan dipicu oleh penguatan pasar ekuitas dan bursa saham AS. Saat berita ini diturunkan, pair XAU/USD diperdagangkan di kisaran level harga 1,185 Dolar AS. Harga emas batangan emas pecahan 1 gram milik PT Aneka Tambang (Antam), Tbk turut menurun menjadi Rp 582,000 daripada sebelumnya Rp 587,000.

Harga Emas Meredup

Pada Comex New York Mercantile Exchange, harga emas berjangka untuk pengiriman bulan April anjlok menjadi di level harga 1,185 Dolar AS per troy ons. Sedangkan harga perak futures untuk pengiriman bulan Maret turun 0.24 persen ke kisaran 16.74 Dolar AS per troy ons; dan harga tembaga futures diperdagangkan di level harga 2.662 Dolar AS per pound, melemah sebesar 0.41 persen.

Selama sesi perdagangan hari Kamis malam kemarin, harga emas melorot ke level terendah dua minggu seiring dengan kuatnya mata uang Dolar AS dan reli di pasar ekuitas. Kondisi tersebut terjadi karena performa pasar tenaga kerja AS yang positif dan adanya ekspektasi tinggi sebagian besar investor terhadap percepatan pertumbuhan ekonomi AS.

Investor Pilih Aset Berisiko Ketimbang Emas

Sebagian besar investor memutuskan untuk menarik aset safe haven dan kembali menempatkan dana mereka di aset-aset berisiko. Akibatnya, harga aset save haven seperti logam mulia emas melemah. Minat tinggi pelaku pasar terhadap aset berisiko dibuktikan dengan penguatan luar biasa indeks Dow Jones Industrial Average(DJIA) yang naik ke level di atas 20,000.

Menurut analis Tyler Richey, outlook harga emas yang bearish masih dikarenakan oleh dampak kebijakan perdagangan Donald Trump. Richey menyatakan, investor emas kini tengah mencari katalis fundamental baru yang mampu mendorong tren harga emas menjadi bullish lagi. Jika tingkat inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda meninggi lebih cepat daripada yang diprediksi dan kenaikan tingkat suku bunga, maka aset safe haven emas akan menjadi lebih menarik. Para analis juga memprediksi bahwa harga logam kuning ini akan kembali meningkat sejalan dengan ketidakpastian politik dan belum stabilnya kondisi perekonomian global.

Sementara itu, perlu diperhatikan bahwa pada pekan depan bank sentral AS akan mengumumkan tingkat suku bunga AS dan memberikan pernyataan terkait dengan pandangan serta prospek perekonomian di negeri Paman Sam ini. Menurut Fed Watch Tool milik CME Group, the Fed tidak akan mengubah tingkat suku bunga-nya, yakni tetap di level antara 0.50 dan 0.75. (Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat : PT Rifan Financindo

Sumber : seputarforex