RIFANFINANCINDO PEKANBARU  | Harga Emas Tertekan Prospek Kenaikan Bunga The Fed

20151109-Ilustrasi-Logam-Mulia

Rifanfinancindo Pekanbaru – Jakarta  Harga emas turun ke level terendah dalam lima bukan pada penutupan perdagangan Selasa karena investor bersiap-siap akan kenaikan suku bunga. Data-data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang membaik akan mendorong Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) untuk menaikkan suku bunga, Mengutip Reuters, Rabu (13//12/2017), harga emas di pasar spot turun 0,1 persen menjadi US$ 1.24064 per ounce pada perdagangan pukul 2 siang waktu New York. Sebelumnya harga emas sempat menyentuh level terendah sejak 20 Juli di angka US$ 1.235,92 per ounce.

Sedangkan harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari turun US$ 5,20 atau 0,4 persen ke level US$ 1.241,70 per ounce.

Pasar global sedang mengamai pertemuan dua hari yang tengah dilakukan oleh Bank Sentral AS untuk menanti adanya petunjuk mengenai jalur kenaikan suku bunga bank sentral AS di masa mendatang.

“Kenaikan pada Desember ini sudah ada di jalur harga emas saat ini. Saat ini pelaku pasar tengah menunggu prospek,” jelas analis komoditas ABN Amro, Georgette Boele.

Harga emas memang sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS karena emas akan kalah dengan instrumen keuangan terutama obligasi yang selain memberikan untung di kenaikan harga juga di bunga atau imbal hasil.

Selain itu, harga emas juga akan sangat sensitif terhadap dolar AS. Kenaikan suku bunga akan mendorong penguatan nilai tukar dolar AS yang kemudian akan menekan harga emas karena menjadi lebih mahal bagi yang bertransaksi mengunakan mata uang lain.

 Harga emas turun di bawah US$ 1.250 per ounce. Sebelumnya harga emas mengalami penurunan mingguan terbesar dalam enam bulan. Ini dipicu pasar yang mengantisipasi rencana kenaikan suku bunga Federal Reserve Amerika pada minggu ini.

Melansir laman Reuters, Selasa (12/12/2017), harga emas di pasar Spot turun 0,2 persen menjadi US$ 1,244.77 per ounce. Sementara emas berjangka AS untuk pengiriman Februari turun US$ 1,50, atau 0,1 persen menjadi US$ 1.246,90 per punce.

Harga emas di pasar spot turun 2,5 persen pada minggu lalu, penurunan mingguan terbesar sejak Mei.

Salah satu pemicu penurunan harga emas, The Fed yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga usai pertemuan selama dua harinya yang berakhir pada hari Rabu.

“Pertanyaannya adalah apa yang akan menjadi panduan ke depan. Apakah mereka lebih hawkish, kurang hawkish, bagaimana inflasi, dan apa yang terjadi tentang prospek ekonomi,” kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas TDEfek di Toronto.

Melek menambahkan pasar emas juga mengantisipasi komentar mengenai laju kenaikan bunga di masa depan. Kemungkinan kenaikan terjadi dua atau tiga lagi pada 2018, meskipun inflasi dan pertumbuhan upah masih melamban.

Harga emas memang sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS. Karena ini meningkatkan biaya dan menahan pembelian aset non-yiel, sementara kenaikan bunga mendorong dolar.

Adapun harga perak mencatat penurunan terbesar, dengan mencatat kontrak 34.915, menurut laporan Societe Generale.

“Investor keuangan benar-benar melarikan diri dari perak,” jelas Commerzbank dalam sebuah catatan. Harga perak turun 0,5 persen menjadi US$ 15,76 per ounce.

Harga Palladium naik 0,2 persen menjadi US$ 1.008,70 per ounce, sementara platinum naik 0,3 persen menjadi US$ 889,80 per ounce setelah menyentuh titik terendah sejak Februari 2016 pada pekan lalu.  ( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat : PT Rifan Financindo 
Sumber : bisnis.liputan6