Harga Minyak Berupaya Beranjak Dari Level Terendah Satu Pekan

Pekanbaru – Harga minyak mentah pada hari Kamis pagi ini (19/1) beranjak dari level terendah satu pekan yang disentuhnya pada sesi perdagangan sebelumnya. Investor kini menantikan sejumlah rilis data dari Amerika Serikat, setelah sejumlah event mengungkap indikasi mengecewakan tadi malam.

Harga Minyak

Kenaikan Harga Minyak Bakal Picu Produksi Shale

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan naik 38 sen ke $51.46 per barel saat berita ini diangkat, setelah sempat terdampar di level rendah satu minggu di angka $50.91 pada hari Rabu. Sementara minyak mentah Brent yang menjadi harga acuan internasional, belum bergeming setelah ditutup melorot 2.8 persen di sesi perdagangan sebelumnya.

Kejatuhan harga minyak mentah terutama dipicu oleh pernyataan dari Fatih Birol, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), yang dianggap sebagai “pre-release” laporan bulanan EIA yang dijadwalkan keluar hari ini. “IEA mengatakan mereka mengekspektasikan harga minyak lebih tinggi akan memicu lonjakan signifikan output minyak shale AS, ” ujar analis bank ANZ dalam sebuah catatannya, “Ini selaras dengan estimasi kami. Namun, kami masih mengharapkan pasar minyak untuk bergerak ke defisit signifikan pada paruh pertama 2017.”

Sementara itu, laporan bulanan OPEC menyebutkan bahwa negara-negara anggotanya mengirim output total 33.085 juta barel per hari pada bulan Desember, atau turun 221,000 bph dibanding data November. Pengurangan output terbesar dilakukan oleh Arab Saudi, yang di awal pekan telah menyatakan akan memangkas besar-besaran lagi pada bulan Januari.

Nantikan Laporan Inventori AS

Sentimen di pasar minyak kini tengah terpecah antara ekspektasi rebound produksi minyak shale Amerika Serikat dan harapan akan tertanggulanginya masalah limpahan surplus dengan diberlakukannya pemangkasan produksi oleh negara-negara produsen minyak lain yang digawangi OPEC.

Di sisi lain, laporan inventori minyak AS dari American Petroleum Institute menyebutkan terjadinya penurunan sebesar 5 juta barel, meski awalnya diekspektasikan akan naik 300,000 barel. Namun, suplai gasolin melonjak 9.75 juta barel dan hasil distilasi naik 1.75 juta barel.

Ke depan, pasar akan menantikan data inventori versi Pemerintah AS yang akan dirilis nanti malam serta data rig count dari Baker Hughes pada hari Jumat.(Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat : Rifan Financindo

Sumber : Seputarforex