IHSG Bertahan di Jalur Hijau

Rifan Financindo Berjangka ? Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi I perdagangan Rabu (29/6), menguat 68,02 poin atau 1,39% ke level 4.950,19.

Sebelumnya pada pagi tadi, Indeks dibuka bertambah 23,81 poin atau 0,49% ke level 4.905,98. Penguatan indeks seiring dengan menguatnya pasar Asia pada hari ini dan euforia dari pengesahan RUU Pengampunan Pajak.

Di bursa Indonesia, pada jeda Rabu siang ini, nilai transaksi saham mencapai Rp 10,37 triliun dari 4,75 miliar saham yang diperdagangan. Adapun transaksi bersih asing Rp 866 miliar dengan aksi jual asing Rp 3,40 triliun berbanding aksi beli asing Rp 4,27 triliun. Tercatat dari 364 saham yang diperdagangkan, 199 naik, 87 menurun, dan 78 tetap.

Tercatat, hampir semua sektor saham pada sesi I perdagangan Rabu ini berada di area positif. Dimana sektor? saham yang memimpin penguatan adalah industri dasar yang naik 2,22%, diikuti oleh sektor manufaktur yang naik 1,81%.

Penguatan IHSG pun berdampak positif terhadap nilai tukar rupiah. Pada istirahat siang ini, mata uang Garuda melanjutkan penguatan dengan naik 32 poin atau 0,24% ke Rp 13.156/USD. Pada pagi tadi, rupiah dibuka berada di jalur hijau sebesar 0,33% atau 43 poin ke Rp 13.145/USD.

Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal bahwa ruang pelonggaran kebijakan moneter selanjutnya di sisa tahun 2016 tetap sangat terbuka, dan tidak terhambat gejolak yang dipicu keluarnya Inggris dari aliansi Uni Eropa (Britain Exit/Brexit).

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Jakarta, Selasa malam, mengatakan untuk mempertimbangkan kebijakan pelonggaran moneter berikutnya, bank sentral lebih memperhatikan tekanan eksternal yang datang dari potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve dan juga pemulihan perekonomian di China.

Meski demikian, kata Mirza, dampak jangka menengah dan jangka panjang dari Brexit tetap menjadi sorotan dalam radar Bank Sentral, terutama jika berpotensi menganggu stabilitas perekonomian.? Saat pengumuman hasil referendum di Inggris, Jumat lalu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan juga pasar saham domestik relatif kecil dan hanya sementara.

Hal itu berbeda dengan tekanan yang timbul dari kebijakan The Fed pada April 2016 lalu. Saat itu, setelah rapat Komite Pasar Terbuka The Fed (FOMC), rupiah tertekan karena ekspektasi pelaku pasar bahwa kenaikan bunga The Fed akan terjadi Juni 2016.

Dengan minimnya tekanan dari The Fed tersebut, BI pun akhirnya melakukan pelonggaran moneter dengan penurunan suku bunga untuk keempat kalinya tahun, ditambah pelonggaran kebijakan makroprudensial.? Mirza mengatakan peluang pelonggaran moneter berikutnya tetap terbuka, apalagi Gubernur The Fed Jannet Yellen sudah menyatakan bahwa akan sangat ?hati-hati? terhadap dampak Brexit. Pernyataan Yellen itu memberikan sinyalamen bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Disampaikan, BI akan tetap memperhatikan stabilitas perekonomian, sebelum memutuskan kebijakan pelonggaran moneter berikutnya. Secara umum, menurutnya, fundamen perekonomian saat ini semakin kuat, tercermin dari laju inflasi yang terkendali dan defisit transaksi berjalan yang mengecil.

Tercatat, hingga Juni 2016, BI sudah empat kali menurunkan suku bunga acuan menjadi 6,5% dari 7,5%. Kebijakan tersebut di luar dari dua pelonggaran instrumen makroprudensial yang diambil pada Juni 2016 lalu.

Bank Sentral pun secara terang-terangan telah memprioritaskan ruang pelonggaran moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, setelah pada 2015 kebijakan moneter dipertahankan dengan ketat, dengan orientasi utama kepada stabilitas perekonomian.(Mbs -?Rifan Financindo Berjangka)

Sumber :?financeroll