Indikator Ekonomi AS Buram, Harga Emas Mengkilat

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA?? ?Harga emas dalam perdagangan hari Selasa (06/09/2016) berakhir naik. Tercatat sebagai harga tertinggi dalam masa hampir tiga minggu ini. Jatuhnya indikator ISM AS ke posisi terlemahnya dalam enam tahun terakhir ini, memupuskan harapan suku bunga AS bisa naik dibulan ini.

Indikator ISM menunjukkan indek non manufaktur turun 51,4% ?pada bulan lalu dari 55,5% dibulan Juli. Ini merupakan yang paling rendah sejak Februari 2010. Jika indek non manufaktur ISM ini masih turun dibulan-bulan yang akan datang, semakin menutup kemungkinan suku bunga AS akan dinaikkan dalam waktu dekat ini.?Hal ini membuat nilai tukar Dolar AS menurun dan harga emas bersinar kembali. Indek Dolar AS turun 1,1% saat penutupan harga emas. Sebagaimana diketahui bahwa lazimnya pergerakan harga emas akan bertolak belakang dengan pergerakan indek Dolar AS. Indek ini mengukur kekuatan nilai tukar Dolar AS atas enam mata uang besar dunia.Pada perdagangan komoditi berjangka, harga emas untuk kontrak pengiriman bulan Desember melonjak sebesar $27.30 atau naik 2,1% ke harga $1.354 per ons. Ini merupakan harga tertinggi yang diraih emas sejak 18 Agustus silam. Kenaikan tertinggi sebelumnya yang diraih adalah pada 24 Juni, ketika harga emas mampu naik lebih dari $59 per ons atau sebesar 4,7% saat Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa.

Tanda-tanda retaknya perekonomian AS memberikan nafas bagi laju kenaikan harga emas berikutnya. Pada bulan Agustus, kinerja emas berakhir ditutup turun. Dengan sentimen ini, terbuka harapan diakhir bulan ini akan berbalik kondisinya. Indikator ekonomi AS terbaru yang diterbitkan oleh The Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan adanya pelemahan baik disektor manufaktur ataupun bukan, terendah sejak 2008. Tentu saja ini membuat girang pasar, terbuka kembali harapan Federal Reserve akan menunda untuk menaikkan suku bunga dibulan ini. Harga emas beringsut naik mencapai posisi tertingginya dalam dua bulan ini.?Kondisi ekonomi AS memang buram dalam pekan-pekan ini. Pada Jumat lalu, telah dinyatakan bahwa angkatan kerja AS yang terserap mengalami penurunan dibulan Agustus. Tingkat pengangguran AS sendiri masih bertengger di 4,9%. Indikator Non Farm Payroll (NFP) AS telah mendinginkan kembali harapan kenaikan suku bunga dibulan ini.

Perdebatan akan seberapa cepat dan agresifnya The Fed untuk menaikkan suku bunga, berujung pada berbagai indikator ekonomi AS. Indikator NFP memiliki tekanan yang besar. Prospek kenaikan suku bunga AS meredup. Akhir pekan kemarin harga emas terdorong naik tipis 0,1% meskipin kinerja bulan Agustus masih minus 3,4%. Menjadikan bulan Agustus dalam posisi penurunan yang pertama kalinya sejak bulan Mei. Meski demikian, harapan kenaikan harga emas dibulan ini masih terjaga. Musim gugur selalu menjadi masa yang baik, dimana harga emas cenderung naik. Bulan September ini masih menjadi dambaan pelaku pasar, menjadi salah satu bulan terbaik bagi komoditi emas. Terindikasiknya kenaikan suku bunga tidak akan dilakukan oleh The Fed pada bulan ini semakin memantapkan harapan tersebut.

Disisi lain, perdagangan saham AS mengalami kenaikan. Sektor teknologi mampu mendorong kenaikan indek NASDAQ. Ditengah lesunya indek sektor jasa, kenaikan sektor ini membuka harapan The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga. Indek NASDAQ naik 26,01 poin atau 0,5% ke posisi tertinggi baru di 5.275,91. Indek Dow Jones juga ditutup naik sebesar 46,16 poin atau 0,3% ke 18.538,12.?Indek S&P 500 sendiri mengalami kenaikan pula. Naik sebesar 6,50 poin atau 0,3% ke 2.186,48. Ditopang kenaikan sektor energi, perdagangan umum dan telekomunikasi. Diawal perdagangan sempat terseok dengan jatuhny sektor ritel. Sektor ritel terpukul dengan penurunan nilai Dolar AS paska data ISM. Penundaan untuk menaikkan suku bunga memang akan membuat nilai tukar dolar AS turun. Tentu saja ini hal kurang menyenangkan bagi sektor ritel. Sementara sektor ekspor akan senang, mengingat komoditi AS akan terasa lebih murah saat Dolar AS turun.

Sejak awal tahun, harga saham-saham hanya naik 7%, tentu saja disambut masam pelaku pasar. Perputaran yang terjadi membuat saham-saham defensif berada pada sektor yang beresiko. Salah satu sebabnya adalah ketergantungan investor sendiri pada isu kebijakan suku bunga Bank Sentral, baik The Fed atau bank sentral lainnya. Dalam masa pendek kedepan, perdagangan bursa saham AS diperkirakan masih akan bergerak dalam kisaran pendek. Investor AS nampaknya masih mencoba untuk menggoyang-goyang harga terlebih dahulu. Perlu diwaspadai lonjakan yang mungkin terjadi mengingat hari Senin depan adalah libur nasional di AS. Kecenderungannya, paska minggu lalu yang bergejolak diminggu ini pasar akan mencoba untuk mengkonsolidasikan diri. Berbagai berita-berita pasar akan menjadi sentimen yang bisa membantu mengarahkan pergerakan harga meskipun hal ini hanya berlaku dalam masa pendek. Pilihan investor menyempit sehingga pertimbangan-pertimbangan jangka pendek lebih efektif.(Mbs-rifan financindo berjangka)

Sumber : financeroll