RIFANFINANCINDO | Inflasi Produsen AS Maret Naik Di Atas Ekspektasi

RIFANFINANCINDO BERJANGKA PEKANBARU – Menurut laporan Departemen Tenaga Kerja AS pada Selasa (10/April) pagi waktu setempat, Inflasi Produsen bulan Maret naik lebih tinggi dibandingkan prakiraan. Kenaikan data yang juga disebut sebagai PPI (Producer Price Index) tersebut didorong oleh semakin meningkatnya biaya layanan.

Inflasi Produsen AS Bulan Maret Naik

Indeks Harga Produsen Negeri Paman Sam mencatatkan kenaikan 0.3 persen pada bulan Maret, melewati ekspektasi ekonom dalam sebuah jajak pendapat Reuters, yang memprediksi PPI AS bulan lalu akan meningkat 0.1 persen. Hasil ini menyusul kenaikan 0.2 persen pada periode Februari. Lonjakan Harga Produsen bulan lalu sekaligus mengangkat kenaikan dalam basis tahunan ke 3.0 persen, dari 2.8 persen di bulan Februari.

Kondisi serupa juga terlihat pada ukuran Inflasi Produsen inti yang tidak memasukkan kategori makanan dan energi. Core PPI dilaporkan mengalami kenaikan 0.3 persen bulan lalu, lebih baik dibandingkan forecast untuk kenaikan 0.2 persen, juga hasil bulan Februari di 0.2 persen. PPI Inti AS YoY meningkat 2.9 persen hingga Maret, menjadi kenaikan terbesar sejak Agustus 2014.

Penyebab kenaikan PPI bisa ditelusuri dari sektor Jasa dan Penerbangan. Harga di industri Jasa meningkat 0.3 persen, tercatat tumbuh dalam margin yang sama selama 3 bulan berturut-turut. Perlu diketahui, Jasa berkontribusi sekitar 70 persen dari keseluruhan PPI. Biaya layanan kesehatan yang masuk dalam perhitungan Indeks PCE Inti meningkat 0.3 persen bulan lalu. Sementara itu, harga tiket penerbangan juga naik, diikuti dengan biaya langganan TV satelit.

Tak Mampu Dorong USD Ungguli Euro

Apiknya data PPI AS bulan lalu tidak serta merta mendorong Greenback menguat versus major currencies terutama terhadap Euro. Pair EUR/USD menguat cukup signifikan sejak sesi Eropa tadi sore, dan saat ini diperdagangkan pada level 1.2358, atau menguat 0.3 persen sejak pembukaan sesi perdagangan hari Selasa.

Penguatan Euro didukung oleh komentar Presiden China yang akhirnya mengambil sikap “lunak” terkait isu perang dagang terhadap AS. Performa Euro juga disokong oleh komentar hawkish dari pejabat penting ECB, Ewald Nowotny. Ia menyebut program pembelian obligasi senilai 2.55 triliun Euro akan dihentikan pada akhir tahun nanti, dan membuka prospek kenaikan suku bunga ECB untuk pertama kali sejak 2011.

“Market bergerak atas penyataan Nowotny yang menunjukan prospek kenaikan suku bunga sebesar 20 basis poin, lebih tinggi dari proyeksi semula yang senilai10 basis poin,” ucap Ekonom ING, Martin Van Vliet.