Jatuhnya Harga Emas Berlanjut, Aksi Jual Makin Marak

Rifan Financindo Berjangka ? Jatuhnya harga emas dalam sepekan terakhir ini diperkirakan masih akan berlanjut dalam sepekan kedepan, setelah banyaknya spekulan yang melakukan aksi jual.

Harga emas yang merosot hingga ke harga termurahnya dalam lima tahun terakhir ini disinyalir masih akan melorot dengan banyaknya aksi jual yang dilakukan. Dalam kontrak berjangka di bursa New York, untuk pertama kalinya posisi jual yang dilakukan oleh spekulan dan manajer pengelola investasi berada pada posisi lebih besar daripada posisi tahan dan beli pada sepekan hingga 24 Juli sejak pencatatan ini dilakukan pada 2006. Dalam empat minggu beruntun, posisi beli mengalami penurunan drastis.

Dalam catatan bursa New York, harga emas turun hingga ke posisi termurahnya sejak 2010 pada minggu lalu. Bursa berjangka juga terimbas dengan meraih catatan penurunan harga emas terbesar dalam sebulan untuk periode dua tahun terakhir ini. Jatuhnya harga emas dipicu sentimen masalah prospek kenaikan suku bunga AS di tahun ini. Naiknya suku bunga AS akan menurunkan daya tarik emas sebagai aset investasi yang lebih menarik dibandingkan set lain seperti Dolar AS, Obligasi dan Saham. Sentimen lain yang juga mempengaruhi jatuhnya harga emas adalah masalah Tiongkok. Sebagai konsumen emas terbesar kedua dunia, melambannya perekonomian Negeri Tirai Bambu tersebut akan berimbas terhadap permintaan emas, dan semakin menguatnya nilai tukar Dolar AS akan semakin memperburuk situasi. Untuk pertama kalinya, bayang-bayang ketakutan pelaku pasar mengemuka akan kemungkinan terburuk kelanjutan jatuhnya harga emas ini.

Pada minggu lalu, harga emas di pasar berjangka mengalami penurunan 4.1 persen ke harga $1,086 per ons di bursa Comex ? New York, bahkan sempat menyentuh $1,073.70, yang merupakan harga termurahnya sejak Februari 2010. Indek Spot Dolar Bloomberg mengalami kenaikan 0.1 persen, yang mencatat kenaikan beruntun dalam lima minggu terakhir ini. Para spekulan menempatkan posisi jual dalam jumlah yang paling besar sejak 2006 silam, sebanyak 11,345 kontrak dalam sepekan hingga 21 Juli kemarin menurut data U.S. Commodity Futures Trading Commission yang dipublikasikan tiga hari lalu.

Data ekonomi AS yang menunjukkan kondisi kesehatan ekonomi Paman Sam terus membaik, semakin memperkuat spekulasi bahwa suku bunga AS akan dinaikkan pada tahun ini. Kondisi lapangan kerja AS membaik meskipun inflasi masih belum tumbuh meyakinkan, namun harga komiditi telah menurun sedemikian rupa akibat tekanan Dolar AS yang mengalami devaluasi. Komoditi seperti minyak, tembaga hingga gula mengalami penurunan. Indek Komoditi Bloomberg surut 4.4 persen pada minggu lalu, yang merupakan angka terendah dalam 13 tahun terakhir ini.

Jumlah kepemilikan aset Emas dalam bentuk ETF anjlok 1.1 persen pada minggu lalu menjadi 1,554.4 metrik ton. Ini merupakan penurunan dalam sepekan yang paling besar sejak Maret silam, dan jumlah kepemilikan tersedikit sejak 2009. Dalam dua tahun terakhir ini, harga emas memang sangat menyakitkan, dimana sejak akhir 2012 jumlah akumulasi ETP mencapai puncaknya dan kemudian surut lebih dari $84 milyar nilai telah susut nilai dana investasinya. Harga emas berjangka sendiri turun 44 persen sejak harga tertingginya $1,923.70 pada September 2011.

Dampak jatuhnya harga emas ini pada pendapatan perusahaan tambang emas sangat nyata sekali. Dengan harga emas dibawah $1,100, setidaknya sepertiga perusahaan tambang emas besar dunia dalam kondisi terancam. Dalam sebuah laporan dipertengahan Juli kemarin, Barclays Plc mengatakan bahwa harga logam mulia ini kinia diperdagangkan hanya sepertiga diatas rata-rata ongkos produksinya, dengan menegaskan bahwa harga emas akan tertahan dikisaran $1,000.? Dalam jangka panjang, para investor bisa melihat potensi keuntungan paska jatuhnya harga emas ke posisi terendah dan menjadi daya tarik untuk melakukan aksi beli kembali, meskipun untuk melakukannya harus benar-benar punya nyali yang kuat.

Jatuhnya harga emas secara ekstrim diperkirakan masih akan berlanjut, dan harga emas bisa turun dibawah $1,000 untuk pertama kalinya sejak 2009.

Jatuhnya harga emas secara ekstrim diperkirakan masih akan berlanjut, mengutip apa yang dinyatakan oleh analis dari Goldman Sachs Group Inc., Jeffrey Currie yang menyatakan bahwa kondisi saat ini masih akan berlanjut dan harga emas bisa turun dibawah $1,000 untuk pertama kalinya sejak 2009. Pernyataan ini dipertegas oleh pandangan dari Macquarie Group Ltd. Pada akhir pekan kemarin yang menyatakan bahwa Emas telah kehilangan daya tariknya sebagai komoditi berharga dan aset investasi alternatif. Bank ini bahkan memangkas proyeksi harga emas di 2016 sebesar 15 persen ke harga $1,163.

Morgan Stanley juga memperkirakan secara lebih ekstrim bahwa harga emas bisa turun dan mencapai $800 per troy ons, dengan menggaris bawahi bahwa suku bunga AS dinaikkan, perekonomian Tiongkok benar-benar melambat ditambah dengan penjualan cadangan emas oleh bank-bank sentral dunia. Kalaupun harga emas akan kembali naik, kenaikan ini akan berbeda dari apa yang dibayangkan sebelumnya. Harga emas bisa saja terkonsolidasi dan menguat kembali, namun saat ini harga emas akan cenderung membentuk harga rendah barunya kembali, kenaikan kembali harga emas atau rebound, mungkin belum akan terjadi dalam waktu dekat ini.

Sumber :?http://financeroll.co.id/news/jatuhnya-harga-emas-berlanjut-aksi-jual-makin-marak/