RIFAN FINANCINDO / Korut-AS Memanas, Dongkrak Harga Emas Meski Demand Lesu

Rifan Financindo Pekanbaru – Harga emas melonjak tajam pada perdagangan kemarin dan berlanjut hingga sesi Asia Selasa pagi ini (26/September), setelah memanasnya kembali ketegangan geopolitik di semenanjung Korea. Merespon sesumbar Presiden Donald Trump, Menteri Luar Negeri Korea Utara, Ri Yong-Ho, memperingatkan bahwa mereka memiliki hak untuk “menembak jatuh pesawat pembom AS”.

Perseteruan Korut AS

Harga Emas Melonjak Lebih Dari Satu Persen

Kontrak emas berjangka untuk pengiriman bulan Desember di divisi COMEX New York Mercantile Exchange melesat lebih dari 1% per troy ons kemarin, dan masih terus meningkat. Saat berita dirilis, pasangan XAU/USD diperdagangkan di kisaran 1,310, level tertingginya dalam sepekan terakhir.

Harga Emas Antam dipatok pada Rp610,000 per gram di LM Jakarta Pulogadung, dengan harga buyback ditetapkan pada Rp547,000 per gram. Masing-masing mengalami kenaikan Rp4,000 dibanding harga acuan hari Senin.

Korut Anggap Trump Deklarasikan Perang

Ri Yong-Ho mengatakan pada wartawan dari berbagai media bahwa tweet Trump yang menyebut Kim Jong-Un “won’t be around much longer (secara harfiah ‘takkan di sini lebih lama lagi’, mengisyaratkan kondisi meninggal -red)” dua hari lalu, merupakan deklarasi perang.

Menanggapi cuitan orang nomor satu di AS tersebut, Ri Yong-Ho menyatakan, “Seluruh dunia harus mengingat dengan jelas bahwa AS lah yang pertama kali mendeklarasikan perang pada negara kami”. Lanjutnya lagi, “Karena Amerika Serikat mendeklarasikan perang atas negara kami, kami memiliki hak untuk melakukan upaya penanggulangan, termasuk hak untuk menembak jatuh pesawat pembom strategis AS, bahkan ketika mereka tidak berada di dalam batas wilayah udara negara kami.”

Sejalan dengan memanasnya perseteruan ini, harga logam mulia selain emas pun turut tergenjot. Perak ditutup naik 1.07 persen kemarin dan pagi ini naik lagi sebanyak 0.57% ke 17.25 per troy ons. Sedangkan harga Platinum naik 0.63% pada Senin, kemudian menanjak lagi 0.20% ke 943.44 pagi ini.

“Latar belakang emas hari ini adalah yang paling bullish dalam waktu lama,” ujar Mark O’Byrne, Direktur Riset di GoldCore Dublin. Ia mengekspektasikan harga emas bisa mencapai 1,400 Dolar AS sebelum akhir tahun, karena permintaan akan aset pelindung kekayaan ini diproyeksikan bakal meningkat di tengah kian meningkatnya ancaman perang.

Masih Perlu Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga AS

Terlepas dari adu retorika antara para pejabat AS dan Korut, permintaan (demand) atas emas sejatinya mengalami tekanan. Laporan CFTC pada Jumat lalu menunjukkan bahwa pertaruhan bullish pada emas di kalangan spekulan jatuh ke 236,100. Pasalnya, di akhir rapat kebijakan bank sentral AS pekan lalu, diisyaratkan akan terjadinya kenaikan suku bunga pada akhir tahun 2017.

Dalam kondisi di mana suku bunga meningkat, minat investor akan emas cenderung menurun, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil dalam bentuk bunga.

Permintaan Emas Fisik India Dijerat Aturan Baru

Permintaan emas dari negara konsumen terbesar kedua, India, juga terpangkas oleh peraturan anti pencucian uang (Anti Money Laundering/AML) terbaru. Dalam aturan yang berlaku sejak 23 Agustus tersebut, semua orang yang membeli emas dalam nilai lebih dari 50,000 Rupee, harus memberikan tanda pengenal pajak mereka (semacam NPWP di Indonesia). Sebelumnya, ambang nilai ditetapkan pada 200,000 Rupee.

Aturan AML yang makin ketat itu, menurut Economic Times, membuat orang-orang “menjauh dari toko-toko perhiasan”. Menjelang perayaan Diwali bulan depan, rumah tangga-rumah tangga India biasanya sudah mulai memborong emas. Namun, kali ini volume penjualan hanya setengah dari level penjualan bulan September di tahun-tahun sebelumnya.

Terkait hal ini, patut untuk diketahui bahwa rumah tangga-rumah tangga India mencakup seperempat dari total penjualan emas secara global dalam lima tahun terakhir.  ( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat : Rifan Financindo

Sumber : seputarforex