Rifan Financindo Pekanbaru | Mendekati Imlek, Emas Merosot Dari Tertinggi Tahunan

Rifan Financindo Pekanbaru – Setelah ditutup pada harga tertinggi mingguan pekan lalu, harga emas tergelincir di awal sesi Asia hari ini (29/Januari). Kejatuhan ini terjadi setelah pada Kamis lalu, emas sempat menyentuh nilai tertingginya dalam satu setengah tahun terakhir. Turunnya harga emas terhadap dolar AS ini juga diikuti dengan naiknya nilai Indeks Dolar AS (DXY) yang pekan lalu sempat menyentuh titik terendah dalam 3 tahun terakhir.

harga emas china

Volume Menurun Menyambut Tahun Baru, Emas Diperkirakan Tetap Bullish

Hanya berjarak kurang dari tiga minggu hingga tahun baru China, permintaan emas di China justru berkurang sebesar 2% di akhir tahun kemarin. Penurunan ini dianggap karena perpindahan pandangan anak muda di China akan emas.

Seorang analis dari Thomson Reuters menjelaskan, “Terlihat pemuda China yang aktif membeli perhiasan mulai berkurang. Mereka mulai berpindah ke arah perhiasan dengan harga yang lebih murah, tetapi tetap fashionable.” Namun, seiring dengan hampir bertepatannya event ini dengan hari Valentine, volume pembelian emas tetap diperkirakan akan naik drastis.

Selain itu, dikutip dari Kitco News, Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities menyampaikan, “Pasar komoditas akan terus menarik minat para investor. Minyak mentah, emas, seng, maupun perak, dapat terus menanjak naik lebih daripada nilainya saat ini.”

Emas Dan Dolar AS Sepekan Kemarin

Harga emas ditutup pada kisaran 1,353.15 USD, Jumat lalu. Penutupan ini merupakan harga mingguan tertinggi sejak Desember tahun 2016 setelah sempat rally hampir sebesar 5% dalam sepekan terakhir. Kenaikan ini sangat berbeda  jika dilihat dari pasangan emas dengan mata uang lainnya. Harga emas turun 0.9% minggu ini terhadap Pound dan turun 1.4% terhadap Franc.

Naiknya harga emas selama sepekan kemarin disebabkan oleh lemahnya Dolar AS. Dimulai dari insiden tidak tercapainya kesepakatan perihal anggaran belanja negara AS yang mengakibatkan Government Shutdown, serta naiknya bea impor untuk solar panel dan mesin cuci. Hingga puncaknya, pada hari Kamis lalu, Menkeu AS, Steven Mnuchin, menilai lemahnya dolar saat ini dapat berdampak baik bagi AS kedepannya.

Dolar sempat sedikit menguat akhir sesi New York, Kamis lalu. Menguatnya dolar AS ini disebabkan oleh statement Trump saat wawancaranya dengan CNBC setelah pertemuan di Forum Ekonomi Dunia. Dalam wawancara tersebut, Trump menyampaikan keinginan agar dolar AS dapat menguat kembali. Komentar Trump ini langsung menendang harga emas dari tertinggi 1.5 tahunnya ke kisaran 1,342.70 USD.

Setelah sempat drop pasca komentar Trump tersebut, harga emas kembali mencoba merangkak ke atas, tetapi upaya ini hanya mampu bertahan sampai di level 1,356.96 USD. Hingga sampai berita ini ditulis, Gold Spot XAU/USD telah turun hingga 1,347.40 USD, atau jatuh 0.23% dari pembukaan minggu ini. Penurunan ini diikuti dengan naiknya Indeks Dolar AS sebesar 0.25% dari pembukaan minggu ini.

Sedangkan di Indonesia, harga Emas Antam minggu lalu ditutup di angka Rp. 635,000.00, atau naik Rp.7,000.00 dari harga pembukaan mingguannya. Untuk minggu ini, Emas Antam dibuka di kisaran Rp636,000.00 per gram, dengan harga buyback Rp568,000.00. ( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat :  Rifan Financindo

Sumber : seputarforex