Minyak Mejeng Di Level Tinggi, Masih Pantau OPEC

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Harga minyak WTI terpantau masih bergerak di atas $51 pada hari Senin pagi ini (5/12), meski nampak bergerak melandai setelah reli kuat minggu lalu. Putusan OPEC untuk memangkas output minyak mentah guna menanggulangi limpahan surplus global telah melonggarkan tekanan pada harga minyak, tetapi kini pelaku pasar akan mengamati eksekusi lanjutan dari kesepakatan kartel tersebut.

Harga Minyak

Pengurangan Produksi Dikhawatirkan Tidak Signifikan

Setelah kesepakatan kuota OPEC disepakati pada hari Rabu lalu, pasar mengantisipasi kemungkinan beberapa negara produsen Non-OPEC untuk ikut mengurangi produksi mereka. Selain itu, ada pula pertanyaan mengenai apakah pengurangan yang dilakukan negara-negara produsen minyak itu benar-benar mampu menyusutkan limpahan surplus yang kini memenuhi pusat-pusat penyimpanan di seluruh dunia, dalam waktu dekat.

Analis dari Societe Generale yang diwawancarai Reuters pada hari Jumat mengatakan, “Inventori minyak mentah global, dan terutama Amerika Serikat, saat ini berada pada level sangat tinggi setelah dua tahun surplus masif… Meski kesepakatan OPEC sangat signifikan dan akan menghasilkan penurunan persediaan global secara moderat, (tetapi) kemungkinan diperlukan lebih dari satu tahun agar jumlah inventori minyak mentah kembali ke level yang lebih normal.”

Apalagi, data terbaru memunculkan fakta bahwa output minyak Rusia di bulan November 2016 naik ke puncak tertinggi sejak keruntuhan Uni Soviet, padahal Moscow berencana menggunakan catatan produksi minyak di bulan tersebut sebagai patokan saat melakukan pemangkasan output. Produksi November tercatat 11.21 juta bph, padahal pemangkasan yang direncanakannya hanya 300,000 bph. Artinya meski dilakukan pemangkasan, tetapi outputnya tetap akan berada di level tinggi, dan limpahan surplus bisa jadi masih akan berlanjut hingga tahun depan.

Praktek menggenjot produksi setinggi-tingginya sebelum kuota berlaku pada Januar 2017 ini dikhawatirkan akan dilakukan juga oleh beberapa negara OPEC, termasuk Arab Saudi dan Kuwait yang bulan ini akan mulai mengoperasikan lagi ladang minyak bersama-nya.

Minyak mentah berjangka Brent menutup perdagangan pekan lalu di posisi harga $54.46 per barel, setelah mencatat rekor gain terbesar sejak 2009 dengan meningkat lebih dari 15 persen dalam sepekan. Saat ini, Brent berada pada harga $53.95.

Sementara itu, harga minyak WTI ditutup pada harga $51.68 per barel di penghujung hari Jumat, setelah menanjak 12 persen dalam seminggu. Sekarang minyak mentah berjangka AS yang terutama diperdagangkan di bursa New York ini nangkring di harga $51.24 per barel.

AS Tinjau Ulang Sanksi Atas Iran

Pasar minyak kini menantikan pertemuan OPEC dengan negara-negara produsen minyak lain di Wina, Austria, tanggal 10 Desember mendatang, serta memantau perkembangan rencana AS untuk kembali memperpanjang sanksi atas Iran.

Senat AS mengajukan perpanjangan Iran Sanctions Act (ISA) untuk 10 tahun lagi untuk ditandatangani oleh Presiden Barack Obama. Pada Jumat, Iran mengancam akan membalas tindakan Senat AS tersebut, karena dipandang telah melanggar persetujuan yang dicapai Iran dengan enam negara Barat tahun lalu. Sanksi itu pertama kali diaplikasikan tahun 1996, tetapi dalam persetujuan tahun 2015, Iran setuju melucuti program nuklirnya dengan ganti dilonggarkannya blokade ekonomi. Pelonggaran tersebut merupakan sebab mengapa Iran bisa kembali menggenjot output minyaknya mulai Januari 2016.

Namun demikian, kini tim transisi Presiden terpilih Donald Trump dikabarkan tengah menelaah proposal untuk penerapan sanksi non-nuklir baru terhadap Iran. (Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat : PT. Rifan Financindo 

Sumber : seputarforex