RIFAN FINANCINDO PEKANBARU | Harga Emas Turun, Dolar AS Kembali Mendominasi

RIFAN FINANCINDO PEKANBARU – Harga emas turun menyentuh level rendah enam minggu di sesi Eropa, Jumat (28/Sep) petang ini. Dolar AS menguat ditunjang data ekonomi AS dan kebijakan moneter ketat The Fed, sehingga harga emas mengalami penurunan bulanan terpanjang sejak bulan Januari 1997. Selain itu, perang dagang AS-China juga masih diawasi oleh pasar.

Harga emas spot mendatar di level $1,182.48 per troy ons siang tadi. Di sesi pembukaan, harga emas spot sempat turun menyentuh level terendah sejak tanggal 17 Agustus di $1,180.34 per troy ons. Harga emas futures untuk pengiriman Desember, turun 0.1 persen ke $1,186.20 per troy ons. Sementara grafik XAU/USD di bawah ini menunjukkan level 1184.61, masih di dekat level rendah yang terbentuk sejak kemarin.

xu

Harga Emas Tertekan Penguatan Dolar

Data pertumbuhan AS kemarin malam dilaporkan mengalami kenaikan tertinggi sejak hampir empat tahun terakhir. Sehingga, walaupun data Durable Goods Orders inti AS mengalami penurunan, Dolar AS tetap dapat menguat.

Di akhir bulan September 2018, harga emas sudah mengakumulasikan penurunan sebanyak 1.6 persen. Menurut para analis Reuters, Outlook jangka pendek harga emas masih bearish, karena Dolar AS masih memiliki potensi untuk menguat lagi di tengah perang bea impor dengan China. Selain itu, suku bunga The Fed yang terus naik membuat emas kian ditinggalkan oleh para investor yang beralih ke Dolar AS.

“Data fundamental ekonomi AS yang mantap di tengah konflik tarif impor, telah menekan turun permintaan bagi aset-aset yang tak berimbal hasil (seperti emas),” kata Benjamin Lu, analis komoditas di Phillip Futures.“Outlook harga emas untuk saat ini masih erhalang oleh kenaikan suku bunga (bank sentral AS) dan yield-yield obligasi di tengah peningkatan kondisi ekonomi AS.”

Perang Dagang AS-China Bagai Api Dalam Sekam

Meski tak banyak kabar perkembangan perang dagang AS-China pasca penerapan bea impor ronde kedua tanggal 24 September lalu, kedua negara tersebut masih saling mengawasi satu sama lain. Yang terbaru, Presiden AS Donald Trump menuduh China campur tangan dalam persiapan Pemilu Parlemen AS pada November mendatang. Hal ini menambah panas hubungan AS-China, karena mulai merambah ke sektor politik. ( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )

Lihat : rifan-pekanbaru

Sumber : seputarforex