Pasar Cerna Lagi Kebijakan The Fed, Harga Emas Rebound

Rifan Pekanbaru – Melandainya kurs Dolar serta imbal hasil obligasi AS yang mengalami penurunan ke level terendahnya mendorong harga emas meningkat. Harga emas di sesi Asia pada hari Kamis (22/06) rebound, berusaha meninggalkan level rendah lima pekan, sementara sebagian besar pelaku pasar yang juga sedang mencerna lagi kebijakan moneter AS.

Pasar Cerna Lagi Kebijakan The Fed, Harga Emas Rebound

Harga Emas Terdongkrak Turunnya Yield Obligasi AS

Saat berita ini ditulis, harga emas spot XAU/USD mengalami kenaikan sebesar 0.48 persen ke kisaran harga 1,252 Dolar AS dan harga emas berjangka untuk pengiriman bulan Agustus pada Comex New York Mercantile Exchange menanjak sebesar 0.59 persen ke level harga 1,253 Dolar AS per troy ons. Harga emas pecahan 1 gram bersertifikat Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Antam), Tbk meningkat tipis ke level harga Rp 587,000 dan harga buy back ke level Rp 531,000.

Harga emas terdukung yield obligasi AS di sesi kemarin yang melemah ke level rendah satu dekade. Ambruknya harga minyak menjadi penyebab utama penurunan yield obligasi. Situasi itu terjadi setelah data dari badan administrasi energi AS, EIA menunjukkan, produksi minyak domestik mingguan bertambah sebesar 20,000 barel. Di samping itu, kenaikan harga logam mulia emas terjadi karena kurs Dolar terhadap beberapa mata uang mayor lainnya tergelincir ditengah bergulirnya bursa saham AS.

Pelaku Pasar Mencerna Kembali Kebijakan Moneter The Fed

Sebelumnya, harga emas berada di bawah tekanan dan nada hawkish the Fed berlanjut untuk membuat pasar emas suram setelah komentar petinggi Federal Reserve. Namun, para investor kini tengah mengevaluasi dan mencerna kembali kebijakan moneter Federal Reserve. Hal ini mengingat tingkat inflasi AS berada di kisaran rendah dan kondisi tersebut bisa jadi membuat bank sentral AS berusaha keras lagi untuk mendorong inflasi agar dapat mendekati target dua persen.

Dalam interview dengan Financial Times hari Rabu kemarin, Presiden The Fed Philadelphia yang juga merupakan anggota FOMC, Patrick Harker berpendapat, the Fed sebaiknya melakukan jeda dalam memutuskan untuk menaikkan tingkat suku bunga-nya dan mulai untuk menyiapkan pengurangan besaran neraca keuangan.

“Perubahan sentimen pasar terhadap kebijakan moneter dan tingkat inflasi AS telah membantu harga emas untuk beranjak dari level rendahnya,” ujar analis di ABN AMRO, Georgette Boele. Sedangkan menurut analis di Standard Chartered, harga emas dapat meninggi hingga ke level harga USD1,300 pada akhir tahun nanti. Analis di sana juga menilai, Federal Reserve hanya akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali daripada tiga kali pada tahun 2018 mendatang.(Mbs-rifan financindo berjangka)

Lihat :Rifan Fnancindo

Sumber : seputarforex