Pembentukan Holding Bank BUMN, Manfaat dan Tantangannya

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Rencana pembentukan holding Bank BUMN nampaknya segera akan terwujud. Terakhir hal ini ditegaskan oleh Menteri BUMN, Rini Soemarno kepada media (10/5/2016) yang menyatakan proses finalisasi kajian holding Bank BUMN ditargetkan rampung pada tahun 2016 ini.

Memang, konsolidasi atau penggabungan Bank BUMN sudah lama menjadi wacana, mulai dari rencana mergerhingga pembentukan virtual holding. Agaknya format terakhirnya bukan dalam bentuk merger melainkan holdingBank BUMN yang dibentuk oleh Kementerian BUMN. Di dalam holding baru ini, masih kurang jelas siapa induk dariholding perbankan konvensional pelat merah ini. Sebelum ini pernah terdengar bahwa Danareka akan berpeluang untuk menjadi induk perusahaan. Pembentukan atau implementasi holding perbankan ini rencananya dilakukan di 2017.

Holding Company ini dikabarkan akan membawahi empat bank milik negara yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Di dalam holding baru ini juga terdapat anak usaha atau unit bisnis di bidang IT dan aset.

Selain itu, menurut info yang beredar di kalangan media, beberapa BUMN finansial lainnya juga akan digabung. Dalam roadmap-nya, Bahana dan Jiwasraya akan diinbrengkan atau dimasukkan ke dalam BRI, serta Danareksa diinbrengkan ke BNI. Sedangkan Pegadaian akan masuk atau diinbrengkan ke dalam holding perbankan konvensional.

Ditargetkan dengan pembentukan holding Bank BUMN konvensional ini pada tahun 2019 bisa berada di posisi kelompok bank dengan modal nomor 5 terbesar di Asia Tenggara.

Manfaat Penggabungan Usaha

Untuk sektor keuangan, Kementerian BUMN selain membentuk Holding Bank kabarnya akan membangun juga beberapa holding lainnya, yaitu:

  • Holding Bank Syariah. Di dalam holding ini akan bergabung BRI Syariah, Mandiri Syariah, BNI Syariah dan BTN Syariah.
  • Holding BUMN Reasuransi. Di dalam holding ini akan terdapat BUMN dari PT Reasuransi Umum Indonesia (RUI) (Persero) dan anak usahanya serta PT Reasuransi Internasional Indonesia (ReINDO).
  • Holding BUMN Asuransi Umum. Di bawah holding BUMN Asuransi Umum, terdapat 4 BUMN asuransi dan anak usahanya yakni: PT Asuransi Asei Indonesia (anak usaha PT Indonesia Re), PT Jasaraharja Putera (anak usaha PT Jasa Raharja), PT Askrindo (Persero), dan PT Asuransi Jasindo (Persero).
  • Holding BUMN Jasa Survei. Di bawah holding company ini akan terdapat 3 BUMN yaitu PT Sucofindo (Persero), PT Surveyor Indonesia (Persero), dan PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero).

Konsolidasi lewat pembentukan holding bank tersebut ini pada dasarnya tidak menghilangkan entitas masing-masing bank. Penggabungan usaha yang diwujudkan dalam bentuk holding company tentunya memiliki sejumlah manfaat dan keuntungan yang strategis sifatnya. Yang terutama adalah masalah optimalisasi aset dan sumber daya yang ada, efisiensi serta efektifitas usaha yang lebih baik. Sebagai contoh jaringan ATM bank-bank BUMN ini nanti langsung bisa digabung sehingga biaya investasi dan operasi IT dapat ditekan pada skala ekonomisnya.

Dari sisi finansial, misalnya, manfaat konsolidasi ini bagi perusahaan induk akan memiliki kemampuan untuk mengevaluasi dan memilih portfolio bisnis terbaik untuk mencapai efektivitas investasi yang ditanamkan, optimalisasi alokasi sumber daya yang dimiliki, serta manajemen dan perencanaan pajak yang lebih baik. Sementara itu, dari sisi non-finansial-nya, dengan holding company memungkinkan perusahaan untuk membangun, mengendalikan, mengelola, mengkonsolidasikan serta mengkoordinasikan aktivitas dalam lingkungan yang aneka bisnis bentuknya. Salah satu yang terutama adalah terbangunnya suatu ?sinergi strategis? di antara group perusahaan yang pada gilirannya meningkatkan sisi efisiensi.

Pemilihan holding company ini, ketimbang merger antar Bank BUMN sebagaimana yang pernah diskenariokan sebelum ini, agaknya untuk membuat kelompok usaha bank menjadi besar dan signifikan di kawasan regional Asia Tenggara, sementara aktifitas operasionalnya tetap bisa lincah karena entitas per bank asal tidak hilang. Manajemen senior masih dapat mengendalikan gerak bank asal dengan relatif cepat menghadapi para bank pesaing di luar kelompok BUMN finansial.

Sejumlah Tantangan

Pembentukan suatu perusahaan induk bukanlah tanpa kesulitan dan tantangan. Dalam kenyataannya banyak dijumpai Holding Company yang belum dikelola dengan baik sehingga justru kemudian menjadi beban, baik bagi perusahaan induk maupun anak perusahaan serta afiliasinya, dan nilai tambah perusahaan yang semula diharapkan menjadi meleset.

Sebagai contoh kasus Bank Holding Company yang gagal adalah FBOP Corp. di Amerika yang memiliki, di antaranya, 9 bank sebagai anak perusahaan, antara lain: Bank USA N.A. of Phoenix, California National Bank of Los Angeles, San Diego National Bank of San Diego, Pacific National Bank of San Francisco, dll. Pada Oktober 2009 perusahaan induk ini dengan total 153 cabang banknya diakuisisi oleh U.S. Bancorp setelah mengalami kerugian besar di tengah terpaan gejolak krisis finansial di Amerika karena masalah subprime mortgage. Holding juga disebutkan mengalami kerugian parah sebesar US$708 juta ?sekitar Rp9,35 triliun- waktu itu dalam pembiayaan real estate komersial.

Ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam konsolidasi usaha berbentuk holding company, antara lain sebagai berikut:

  • Manajemen perusahaan induk harus memiliki kapabilitas dan kompetensi yang luas dalam memimpin perkembangan bisnis yang bersifat multi variasi. Tidak mudah untuk mengontrol dan membangun sinergi pada beberapa anak perusahaan secara sekaligus. Keputusan yang dihasilkan bisa jadi tidak efektif. Namun demikian, karena ini masih satu kelompok industri perbankan, diharapkan isyu di sini dapat ditangani oleh tim manajemen yang mumpuni.
  • Dari sisi anak perusahaan, manajemen senior bank sekarang memiliki garis laporan ke atas yang baru. Bisa saja ini menimbulkan masalah persaingan kepentingan dan pelambatan birokrasi keputusan manajemen. Untuk ini, sepanjang jelas struktur dan garis batas wewenangnya diharapkan masing-masing pihak manajemen akan tetap dapat menunjukkan kinerjanya secara optimum. Ada sejumlah elemen managerial yang perlu dikandung di dalamnya, meliputi struktur organisasi dengan peran serta tanggung jawab yang jelas, arus informasi, proses implementasi, delegasi wewenang, serta sistem pengendalian dan pemantauan.
  • Aspek risiko kiranya perlu diperhatikan dan dijaga dengan baik dan professional. Isyu risiko yang terjadi di salah satu bank anak perusahaan, sebutlah misalnya membengkaknya risiko kredit yang berimbas kepada risiko reputasi, akan dengan cepat merembet kepada bank-bank lainnya dalam group menjadi suatu risiko sistemik. Untuk industri perbankan, kehilangan kepercayaan masyarakat adalah satu bencana terbesar yang mungkin terjadi. Contohnya waktu krismon tahun 1998 yang lalu, ketika rush melanda perbankan waktu itu.
  • Mengingat bank-bank yang terkonsolidasi nanti adalah perusahaan publik, kelompok pemegang saham akan lebih kritis terhadap isyu pembentukan holding. Di antaranya adalah masalah perpajakan ganda dan kapitalisasi nilai saham selanjutnya. Dibutuhkan professional keuangan yang cakap tentunya dalam manajemen finansial perusahaan induk.

Tantangan-tantangan lainnya masih ada banyak lagi. Yang jelas, manajemen bisnis menjadi lebih kompleks dan skalanya membengkak. Apakah manajemen perusahaan yang mendadak membesar, menggurita, dan menggajah ?karena terpilih sebagai perusahaan induk- ini dapat menanganinya dengan baik? Adakah kenaikan nilai perusahaan, yang di antaranya tercermin dari eskalasi nilai saham di kemudian harinya? Bagaimana pula dengan sisi strategic change management? Manajemen perubahan yang bersifat strategis dan membawa identitas perusahaan yang segar, baru dan ?world class?. Ini suatu tantangan besar.

Menangani holding company tidaklah mudah, bahkan sekalipun itu dalam satu jenis kelompok industri. Belum lama ini saja manajemen PT Jakarta Propertindo harus dicopot karena Gubernur DKI Ahok menilai pimpinan sudah gagal menjadikan Jakpro sebagai ?holding company? untuk BUMD-BUMD bidang properti yang dimiliki Pemerintah Provinsi DKI.

Diperlukan juga, karenanya, pemilihan manajemen senior dan struktur SDM yang tepat di holding company. Right person on the right place. Untuk Holding Bank BUMN nanti, siapakah mereka? Kita tunggu dan lihat perkembangan selanjutnya.(Mbs-rifan financindo berjangka)

Sumber :?vibiznews.com