PERCERAIAN, KABAR BAIK ATAU BURUK?

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Suatu malam tak sengaja aku men-dial nomor temanku. Aku sendiri kaget, soalnya ini dah malam. Segera aku putuskan sambungan telepon yang belum dibalas itu. Tapi tak perlu nunggu lama, teman?itu mengirim pesan singkat menanyakan kenapa aku telpon. Aku jawab apa adanya, kalau itu kepencet gak sengaja. Biar gak curiga, aku tambah keterangan kalau aku sedang melihat-lihat daftar kontak karena handphoneku baru saja hilang. Setidaknya untuk sedikit menghilangkan rasa canggung.

Obrolan selanjutnya membuatku terkejut. ?Mas, aku dah cerai?. ?Oh?, aku jawab singkat. Dulu kami pernah cukup akrab, sebelum akhirnya putus kontak hampir selama 10 tahun, dan baru beberapa bulan lalu aku mendapatkan kontaknya dan kami beberapa kali sempat ngobrol. Tapi aku tidak terlalu menggali soal kehidupan pribadinya.

Entah apa alasan dia cerita, mungkin sekedar ingin cerita. Tapi terus terang, aku agak bingung harus merespon bagaimana.

Beberapa bulan lalu, kakak keduaku ?diusir? oleh suaminya, dan mereka sedang menjalani proses perceraian. Karena aku kenal betul kondisi keluarga mereka, termasuk tabiat kakakku, aku tidak bisa menyalahkan suaminya itu 100%. Keduanya punya andil dalam ketidakharmonisan keluarga yang makin lama makin parah. Kehadiran anak tidak serta merta bisa menjadi sarana untuk berdamai. Malah menurutku, kalau keduanya tidak bisa mengubah karakter masing-masing, perceraian adalah solusi terbaik.

Ada juga teman baikku, bekas kolega di kantor, yang menurut kabar sedang mengurus perceraiannya. Entah apa alasannya, aku tidak berani bertanya lebih banyak. Saudara sepupuku, yang jauh lebih muda dan punya anak satu, malah sudah satu tahun bercerai. Padahal tahun sebelumnya mereka masih tampak mesra. Heran juga, mengapa belakangan berita perceraian makin sering aku dapati, bukan cuma dikalangan artis atau orang-orang yang tidak aku kenal, tapi justru terjadi di orang-orang terdekatku. Yang paling hangat adalah kondisi keluarga kakak sulungku yang sedang menjalani proses mediasi untuk menghindari perceraian.

Tapi terus terang, berlawanan dengan pendapat ?resmi? orang Kristiani, aku bukanlah penentang berat perceraian. Artinya ada kondisi tertentu dimana perceraian adalah jalan keluar dari masalah yang dihadapi, selama kedua belah pihak tidak bisa sama-sama meruntuhkan egonya. Harus keduanya, tidak bisa hanya salah satu yang mengalah. Selama diantara suami atau istri masih ada yang terlalu egois, aku rasa perceraian bukan hal yang tabu. Perceraian tidak lebih buruk ketimbang kebohongan. Memang, banyak kasus dimana kesabaran salah satu pihak bisa membuat pihak lain sadar dan menyelamatkan pernikahan itu, tapi hal itu tidak pantas untuk dipaksakan. Seperti halnya mujizat, banyak terjadi, tapi ada kalanya juga tidak terjadi. Apakah artinya dunia berakhir bagi mereka? Belum tentu. Ini pendapat pribadi lho.

Makanya aku sering bingung, apakah perceraian adalah kabar buruk? Memang hal yang buruk, tapi bisa jadi itu justru membawa kelegaan bagi kedua belah pihak. Syukur-syukur dengan perceraian bisa menyadarkan mereka dan akhirnya rujuk. Bisa jadi kondisi keduanya, terutama kondisi mental, bisa menjadi lebih baik setelah bercerai. Bukan berarti perceraian menjadi hal yang gampang dilakukan, ini juga aku tidak setuju.

?Perceraian itu masih masalahnya rumit, Mas?, kata temanku. Iya. Perceraian pasti berawal dari dosa-dosa yang sudah dilakukan sebelumnya, dan keengganan atau ketidaksanggupan pasangan untuk menyingkirkan dosa itulah yang membuat perceraian menjadi salah satu solusi. Jadi masalah utamanya bukanlah perceraian, tapi penyebab-penyebab awalnya. Jadi perceraian bisa jadi merupakan kabar baik, tapi merupakan dampak dari kabar buruk sebelumnya.(Mbs-rifan financindo berjangka)

Sumber :?http://kurnia.blogdetik.com/