PT Rifan | Sri Mulyani Bebaskan Pajak Impor Oksigen-Obat, Ini Hitung-hitungannya

PT Rifan Financindo Berjangka | Corona Menggila, Ekonomi RI 2021 Diprediksi Tumbuh di Bawah 4%

PT Rifan – Jakarta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membebaskan pajak impor untuk lima kelompok barang yang digunakan dalam keperluan penanganan pandemi COVID-19. Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 92/PMK.02/2021.

“Untuk memberikan kepastian hukum dan percepatan pelayanan dalam memberikan fasilitas kepabeanan dan/atau cukai serta perpajakan impor barang untuk penanganan pandemi COVID-19,” tulis penggalan beleid tersebut dikutip detikcom, Kamis (15/7/2021).

Barang pertama yang pajak impornya dibebaskan terdiri dari test kit dan reagent laboratorium atau PCR test. Kedua, virus transfer media. Ketiga, obat yang terdiri dari Tocilizumab, Intravenous Imunoglobulin, Mesenchymal Stem Cell, Low Molecular Weight Heparin, obat mengandung regdanwimab, Favipiravir, Oseltamivir, Remdesivir, Insulin serta Lopinavir dan Ritonavir.

Kemudian kelompok barang keempat yaitu peralatan medis dan kemasan oksigen yang terdiri dari oksigen, isotank, pressure regulator, humidifier, termometer, oksigen konsentrator, ventilator, thermal imaging hingga swab. Terakhir yaitu alat pelindung diri (APD) berupa masker N95.

Bagaimana simulasi harga dari dampak barang bebas pajak impor di atas?

Kepala Seksi Humas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan, Sudiro mengatakan ada beberapa unsur dalam perhitungan bea masuk barang kiriman. Pertama hitung nilai dasar pengenaan bea masuk yang terdiri dari harga barang (cost) + nilai asuransi (insurance) + ongkos kirim (freight) atau biasa disebut nilai CIF.

Nah setelah CIF dikalikan bea masuk, hasilnya ditambah CIF kembali. Angka yang keluar menjadi nilai dasar pengenaan pajak.

Kemudian, nilai dasar pengenaan pajak itu dikalikan PPN sebesar 10%, lalu dikalikan PPh 2,5%.

Contoh misalnya saja jika membeli oksigen dari Taiwan dengan harga US$ 30. Kemudian ongkos kirimnya sekitar US$ 8 dan asuransi sekitar US$ 1 maka nilai CIF US$ 39.

Nilai itu kemudian disetarakan ke rupiah. Menghitung asumsi rupiah Rp 14.500/dolar AS, maka menjadi Rp 565.500. Penghitungannya disesuaikan dengan nilai mata uang yang berlaku saat itu.

Untuk oksigen sendiri dikenakan bea masuk khusus 5%, maka tarif bea masuknya Rp 565.500×5%=Rp 28.275. Jika ditambahkan dengan CIF maka nilai dasar pengenaan pajaknya Rp 565.500+Rp 28.275=Rp 593.775.

Kemudian angka itu dikalikan PPN menjadi Rp 593.775×10%= Rp 59.377, kemudian dikalikan PPh jadi Rp 593.775×2,5%=14.844. Dengan begitu, total pajak impor oksigen yang dibebasbayarkan di Indonesia adalah Rp 28.275+59.377+14.844 yaitu Rp 102.496.

 Perhitungan itu juga berlaku untuk barang bebas pajak impor lainnya. Tinggal disesuaikan dengan masing-masing bea masuk yang ditetapkan pada barang tersebut. ( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )

Lihat : PT Rifan

Sumber : finance.detik