PT Rifanfinancindo | Garuda Batal Cari Rp 12,6 Triliun untuk Bayar Utang

1ffc96c5-0e8c-478b-b169-bede5e0fdfe5_169

PT Rifan Financindo – Jakarta PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membatalkan rencananya untuk melakukan pembiayaan utang atau refinancing. Awalnya perusahaan berencana mencari dana US$ 900 juta atau setara Rp 12,6 triliun (kurs Rp 14 ribu).

Pembatalan rencana refinancing itu disampaikan perusahaan pada keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Selasa (31/12/2019).

“Pembatalan tersebut dilakukan dengan pertimbangan belum tersedianya laporan keuangan limited review atau laporan keuangan audit perseroan sampai dengan pelaksanaan RUPS,” kata Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Garuda Indonesia Fuad Rizal dalam keterangannya.

Sebelum meminta persetujuan untuk mencari dana sebesar itu, perusahaan memang harus melakukan audit laporan keuangan terlebih dahulu. Namun entah kenapa audit itu tak berhasil dilakukan.

Meski begitu, Fuad menegaskan perusahaan masih melakukan pengkajian alternatif pendanaan lain. Tujuannya untuk tetap merealisasikan refinancing utang keuangan yang sudah jatuh tempo dalam waktu 1 tahun ke depan.

Sebelumnya diberitakan per 31 Desember 2018 Garuda Indonesia memiliki utang sebesar US$ 1,6 miliar yang jatuh tempo dalam waktu 1 tahun. Selain itu ada juga utang di atas 1 tahun sebesar US$ 77 juta.

Untuk membayar utang tersebut, Garuda Indonesia menyiapkan 3 skema pencarian dana dengan total nilai transaksi maksimal US$ 900 juta. Skema itu di antaranya penerbitan global sukuk, pendanaan private placement dan peer to peer lending.

“Dana hasil Penerbitan Global Sukuk dan/atau Instrumen Keuangan Lainnya akan dipergunakan untuk pembiayaan kembali/pelunasan baik sebagian maupun seluruhnya atas hutang Perseroan sehingga proporsi hutang keuangan yang jatuh tempo dalam satu tahun tidak akan lebih kecil dibandingkan dengan hutang keuangan yang jatuh tempo di atas satu tahun,” tulis manajemen.

Untuk rencana penerbitan global sukuk sendiri dilakukan maksimal US$ 750 juta. Penerbitannya akan dilakukan di luar negeri. Jatuh tempo paling lama 2024.

Kedua rencana pendanaan private placement obligasi dalam bentuk mata uang dolar AS dengan nilai maksimal US$ 750 juta. Jatuh temponya 2024 dengan tempo pembayaran bunga setiap 3 atau 6 bulan.

Ketiga rencana pinjaman peer to peer lending dengan nilai maksimal US$ 500 juta. Jatuh temponya juga sama yakni 2024 dengan tempo pembayaran bunga setiap 3 bulan.

Perseroan akan memilih skema pendaan tersebut, salah satu maupun kombinasi dari ketiganya. Namun maksimal transaksi US$ 900 juta. ( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )Lihat : PT Rifan Financindo

Sumber : finance.detik