Rifan Financindo | Deretan Penyebab Dolar AS Melemah

Rifan Financindo | Deretan Penyebab Dolar AS Melemah

Rifan Financindo – Jakarta Belakangan, dolar AS tercatat melemah hampir 12% terhadap berbagai mata uang utama lainnya, sejak mencapai puncaknya pada bulan Maret lalu. Minggu lalu, dolar AS bahkan mencapai level terendahnya sejak April 2018. Sebagaimana diketahui, terakhir kali greenback melemah sampai level itu adalah pada 2017 lalu.

Menurut para ahli strategi atau analis dikutip dari CNN Business, Senin (7/12/2020), berikut beberapa faktor yang membuat dolar AS terus melemah:

1. Munculnya optimisme pasar pada pemulihan global pasca pandemi. Pada dasarnya, ketika ekonomi AS dan ekonomi global berkinerja kuat, mata uang dolar dan aset safe haven lainnya bakal cenderung melemah.

 Meskipun kasus COVID-19 terus meningkat, investor justru menaruh kepercayaan mereka pada kedatangan vaksin yang aman dan efektif dalam waktu dekat, yang mereka prediksi bisa mengembalikan aktivitas seperti sebelum pandemi, pada pertengahan 2021 mendatang.
2. Kebijakan bank sentral. Federal Reserve telah memastikan bakal mempertahankan suku bunga yang rendah dan terus mencetak uang selama diperlukan untuk merangsang ekonomi AS.

Hal itu menumbuhkan keyakinan pasar. Sehingga membuat investor optimis buat menempatkan dananya selain pada aset safe haven.

3. Kebijakan Era Biden jadi Penentu. Menurut Mark Haefele, kepala investasi UBS Global Wealth Management, kebijakan tarif dalam beberapa tahun ini telah berkontribusi pada dolar yang lebih kuat. Perselisihan soal kebijakan tarif ekspor dengan negara-negara seperti China meningkatkan ketegangan geopolitik, lalu memberi ketidakpastian kepada para investor. Terpilihnya Joe Biden diharapkan dapat meredam perselisihan tersebut. Hal itu positif untuk pertumbuhan global, namun bisa negatif untuk dolar.

Dampak Positif Pelemahan Dolar AS

Kepala Strategi Mata Uang Eropa di TD Securities, Ned Rumpeltin mengatakan dolar yang terdepresiasi tidak selalu berarti buruk. Faktanya, dolar yang melemah, sambungnya, bisa menjadi keuntungan bagi pemulihan ekonomi.

Ketika greenback melemah, hal itu bisa membantu meningkatkan permintaan ekspor AS. Hal ini juga meringankan kondisi keuangan, membantu pasar negara berkembang yang memegang utang dalam mata uang dolar, dan meningkatkan permintaan komoditas, karena produk seperti minyak mentah relatif lebih murah untuk pembeli asing.

 Efek lain dari pelemahan dolar, bisa membuat mata uang lain seperti euro dengan cepat menguat karena penurunan dolar. Namun, hal itu perlu dipantau oleh bank sentral sebagai potensi sumber ketidakstabilan.

Buktinya, sejak April lalu, mata uang euro sudah naik sekitar 10% terhadap dolar AS. Deutsche Bank memperkirakan euro akan naik dari US$ 1,21 menjadi US$ 1,30 pada akhir 2021 mendatang. ( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )

Lihat : Rifan Financindo
Sumber : finance.detik