Rifan Financindo | Rupiah Menguat Meski Defisit Current Account Naik

Rifan Financindo  –  Kurs Rupiah hari ini (09/Agustus) menguat terhadap Dolar AS. Berdasarkan grafik Jisdor, Rupiah naik dari level penutupan kemarin Rp14,231 ke Rp14,195. Sementara menurut pantauan di TradingView, USD/IDR melemah dibandingkan pembukaan hari ini, dari level Rp14,227 ke Rp14,182. Selengkapnya bisa dilihat pada chart berikut ini:

rupiah hari ini

 

Dibayangi Defisit Transaksi Berjalan

Meski Kurs Rupiah bergerak menguat pada perdagangan Jumat ini, tekanan terhadap Rupiah masih ada. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, yang melihat penguatan USD/IDR dibayangi oleh Defisit Transaksi Berjalan atau CAD (Current Account Deficit).

Sebagaimana diketahui,  pada hari Jumat (09/Agustus) ini, Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya peningkatan defisit Current Account kuartal II 2019 menjadi 8.4 miliar Dolar AS. Kisaran tersebut setara 3 persen dari PDB, dan lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya mencapai 7 miliar Dolar AS (2.6 persen dari PDB).

Defisit dipengaruhi oleh perilaku musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri, serta dampak pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat dan harga komoditas yang turun,” tutur Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko, dilansir dari Kompas.

Menimbang pengumuman dari Bank Indonesia tersebut, Ibrahim berpendapat bahwa saat CAD semakin meningkat, maka mata uang akan sangat bergantung pada arus modal di pasar keuangan yang notabene bisa datang dan pergi sesuka hati. Hal ini menurutnya memicu ketidakstabilan pada Kurs Rupiah.

Dalam transaksi hari Jumat, Rupiah akan diperdagangkan fluktuatif di level 14.175-14.240, tapi akan ditutup melemah tipis akibat dampak dari jeleknya Data Neraca Pembayaran atau Defisit Transaksi Berjalan,” ujar Ibrahim Assuaibi, sebagaimana dikutip dari Liputan6.

 

Masih Ada Harapan Rupiah Menguat

Meski sentimen internal kurang mendukung, Rupiah masih memiliki harapan untuk menguat karena faktor eksternal. Menurut sumber dari CME FedWatch, probabilitas The Fed untuk menurunkan suku bunga AS pada pertemuan 18 September berada di level tinggi, yakni 74.2 persen.

Situasi ini menjadikan investasi di Tanah Air semakin menguntungkan, khususnya di instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi yang sensitif terhadap suku bunga. Mengutip pantauan dari CNBC Indonesia, transaksi berjalan boleh jadi sedang defisit, tapi dalam waktu, dekat pasokan devisa diprediksi masih deras. Ini yang membuat prospek Rupiah masih cukup menjanjikan.  ( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )

Lihat : Rifan Financindo

Sumber : seputarforex