Rifan Financindo | Uji Klinis Rampung 2021, Kok Vaksin Corona Disuntik Bulan Depan?

Rifan Financindo | Uji Klinis Rampung 2021, Kok Vaksin Corona Disuntik Bulan Depan?

Rifan Financindo – Jakarta Pelaksanaan penyuntikan vaksin Corona menyisakan tanda tanya. Pemerintah mengklaim, penyuntikan akan dimulai akhir tahun ini. Sementara, vaksin Sinovac yang tengah menjalani uji klinis tahap III di Indonesia dijadwalkan baru selesai pada Januari 2021 alias awal tahun depan. Kok bisa lebih cepat?

Project Integration Manager R&D PT Bio Farma (Persero) Neni Nurainy menjelaskan, memang uji klinis vaksin Sinovac akan rampung pada Januari 2021. Namun, bisa lebih cepat jika melihat progres yang ada saat ini.

“Terkait dengan vaksin Sinovac memang jadwal kita uji klinis ini akan selesai di akhir Januari 2021. Namun kita akan melihat dinamikanya kemungkinan juga bisa lebih cepat karena memang sampai hari ini sudah tersuntik, minggu lalu sudah tersuntik sekitar 1.565 subjek. Suntikan kedua 843 subjek dari 1.620. Jadi kemungkinan kita bisa produksi di akhir Januari 2021 atau awal Februari 2021,” terangnya.

 Dia menuturkan, vaksin yang bakal disuntik pada November ialah vaksin darurat atau emergency yang ditujukan untuk orang-orang yang memiliki risiko tinggi.

“Mengenai vaksin yang bulan November-Desember itu adalah program pemerintah. Jadi program yang dilakukan dalam rangka emergency penanganan COVID-19. Jadi program ini akan diberikan suntikan kepada yang high risk kepada nakes kita dan kepada TNI dan Polri itu salah satu contoh high risk,” terangnya.

Dia bilang, vaksin yang digunakan ialah vaksin impor jadi. Saat ini, ada tiga kandidat vaksin yang akan disuntikan pada akhir tahun yakni dari Sinovac, Sinopharm dan CanSino. Menurutnya, vaksin itu mendapat Emergency Use Authorization (EUA).

“November dan Desember itu pemerintah mengimpor vaksin jadi, yang sudah diwacanakan ada 3 Sinovac, Sinopharm, Cansino masih negosiasi. Dan vaksin-vaksin ini sudah mendapat Emergency Use Authorization (EUA) di negaranya masing-masing yaitu di China untuk masuk Indonesia perlu perizinan BPOM juga,” terangnya.

Sementara, Staf Ahli Menteri Kesehatan, Alexander Kaliaga Ginting menjelaskan rencananya penyuntikan vaksin COVID-19 dimulai Desember. Seluruh vaksin COVID-19 yang tiba di Indonesia disebut Alexander potensial dan bisa disuntikkan sambil menunggu hasil uji klinis vaksin COVID-19 selesai.

“Iya rencananya kan di Desember, planning-nya. Banyak (vaksin COVID-19) disiapkan karena kan penduduk Indonesia tinggi ada 250 juta kan,” jelasnya saat dihubungi detikcom.

Dikutip dari keterangan resmi Kemenko Marves, Senin (12/10/2020), beberapa perusahaan akan mengirim vaksin Corona mulai November 2020 mendatang. Vaksin itu merupakan produksi dari Sinovac, G42/Sinopharm dan CanSino Biologics.

Sinovac akan mengirim 1,5 juta dosis vaksin (single dose vials) pada minggu pertama November dan 1,5 juta dosis vaksin (single dose vials) lagi pada minggu pertama Desember 2020, ditambah 15 juta dosis vaksin dalam bentuk bulk.

 Lalu, G42/Sinopharm akan mengirim 15 juta dosis vaksin (dual dose) tahun ini, di mana 5 juta dosis akan mulai datang pada bulan November 2020.

Kemudian, CanSino akan mengirim 100.000 dosis vaksin (single dose) pada bulan November 2020, dan sekitar 15-20 juta untuk tahun 2021. Single dose artinya satu orang hanya membutuhkan 1 dosis vaksinasi, sementara dual dose membutuhkan 2 kali vaksinasi untuk satu orang.

Distribusi itu merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, dan Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir ke China pada Sabtu, 10 Oktober 2020 lalu untuk finalisasi pembelian vaksin Corona baik dari CanSino, Sinovac, juga G42/Sinopharm.

Vaksin dari ketiga perusahaan tersebut sudah masuk pada tahap akhir uji klinis tahap ke-3 dan dalam proses mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) di sejumlah negara.

CanSino melakukan uji klinis tahap ke-3 di China, Arab Saudi, Rusia dan Pakistan. G42/Sinopharm melakukan uji klinis tahap ke-3 di Tiongkok, Uni Emirat Arab (UEA), Peru, Moroko dan Argentina. Sementara itu, Sinovac melakukan uji klinis tahap ke-3 di China, Indonesia, Brazil, Turki, Banglades, dan Chile. Emergency Use Authorization dari Pemerintah Tiongkok telah diperoleh ketiga perusahaan tersebut pada bulan Juli 2020. Pemerintah UEA ikut memberikan Emergency Use Authorization kepada G42/Sinopharm.

Dikutip dari halaman resmi Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), EUA pada dasarnya adalah izin penggunaan metode atau produk medis tertentu untuk suatu penyakit dalam kondisi darurat. EUA bisa dikeluarkan otoritas bila dianggap sudah ada bukti ilmiah yang cukup terkait efektivitas dan risiko keamanan suatu produk.

Hanya saja karena ini izin darurat, produk atau metode terkait tidak bisa digunakan secara luas. Biasanya hanya kelompok tertentu yang akan diberikan izin karena dianggap paling berisiko.

 “EUA digunakan untuk membantu produk medis bisa digunakan secepatnya, dengan mengizinkan produk yang belum berizin dapat digunakan pasien ketika tidak ada alternatif,” tulis FDA. ( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )

Lihat : Rifan Financindo
Sumber : finance.detik