Rifanfinancindo | Ancaman World War 3 Bikin Harga Emas dan Minyak Melambung!

Rifanfinancindo

Rifanfinancindo  –  Jakarta  Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin membara sejak pekan lalu. Ketegangan ini mulai menimbulkan efek ke harga emas hingga minyak mentah dunia.

Konflik kembali membara ketika Presiden AS Donald Trump menyerukan serangan ke Baghdad hingga menewaskan komandan pasukan Quds Iran Jenderal Qasem Soleimani.

Soleimani, kepala unit pasukan khusus di Korps Pengawal Revolusi Islam, adalah arsitek utama operasi militer Iran di luar negeri. Dia terbunuh Kamis malam ketika meninggalkan bandara Baghdad, saat mobil konvoinya ditabrak oleh sebuah pesawat tak berawak yang diperintahkan oleh presiden AS.

Salah satu dari mereka yang terbunuh bersamanya juga adalah pemimpin penting milisi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, yang juga wakil komandan milisi yang didukung Iran yang dikenal sebagai Pasukan Mobilisasi Populer. Konflik semakin pelik setelah AS juga mulai mengancam Irak.

Hal itu menimbulkan gejolak atas harga minyak mentah dan emas. Mengingat Irak merupakan salah satu produsen minyak terbesar di dunia.

Pada perdagangan minggu malam harga minyak mentah dunia naik lebih dari 2%.

Melansir CNBC, Senin (6/1/2020), Benchmark harga minyak mentah Internasional, Brent, naik 2,3% menjadi US$ 70,18 per barel, sementara West Texas Intermediate naik 2,1% menjadi US$ 64,38 per barel.

Pada hari Jumat Brent mencapai level tertinggi sepanjang lebih dari tiga bulan di US$ 69,50 yang kemudian akhirnya menetap di $ 68,60. Sementara itu WTI naik ke sesi tertinggi US$ 64,09 yang merupakan level tertinggi sejak April sebelum menarik kembali untuk menetap di US$ 63,05 dengan kenaikan 3,06%.

Iran telah bersumpah untuk membalas serangan AS itu, dan bentuk pembalasan ini akan menentukan langkah prodiksi minyak selanjutnya, menurut analis Wall Street. Misalnya, jika negara menargetkan produksi di Arab Saudi atau Irak yang merupakan produsen terbesar OPEC harga bisa bergerak lebih tinggi lagi.

Pada hari Jumat, kepala penelitian komoditas global Citi Ed Morse mengatakan bahwa harga minyak mentah akan mencapai US$ 70 per barel dalam waktu singkat, sementara Again Capital’s John Kilduff mengatakan bahwa jika produksi Irak tertahan maka harga minyak akan melonjak lebih tinggi.
Irak adalah produsen minyak terbesar kedua OPEC, memompa sekitar 4,6 juta barel per hari.

Konflik yang terjadi antara AS dan Iran membuat tensi kedua negara memanas. Irak merasa negaranya akan menjadi lokasi perang antara AS vs Iran.

Parlemen Irak mengambil tindakan dengan mengusir pasukan AS dan militer negara lainnya keluar dari negaranya. Hal itu membuat Trump kembali naik darah.

Bagaimana dengan harga emas?

Harga Emas Capai Level Tertinggi Dalam 7 Tahun

Tensi yang memanas di Timur Tengah membuat harga emas global mencapai level tertingginya dalam hampir tujuh tahun. Sementara harga minyak mentah dunia juga melonjak signifikan.

Melansir CNBC, pada Senin (6/1/2020), spot gold melonjak 1,6% menjadi US$ 1.575,37 per ounce. Angka itu merupakan level tertinggi sejak April 2013.

Selain itu harga minyak global juga meningkat di tengah kekhawatiran konflik di kawasan Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan global. Minyak mentah berjangka Brent naik US$$ 1,05 menjadi US$ 69,65 per barel, sementara minyak mentah AS naik 94 sen menjadi US$ 63,99.

“Risiko eskalasi lebih lanjut jelas telah meningkat, mengingat serangan langsung terhadap Iran. Ancaman pembalasan Iran dan keinginan Trump untuk terlihat tangguh merupakan ancaman dari harga minyak yang bisa lebih tinggi,” kata kepala ekonom AMP Capital, Shane Oliver.

Di pasar saham juga menunjukkan gejolak. Indeks saham MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,16% meskipun sebagian besar indeks utama belum dibuka. Futures untuk Nikkei Jepang menunjukkan penurunan pembukaan sekitar 500 poin. ( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )

Lihat : Rifanfinancindo

Sumber : finance.detik