Rifanfinancindo | PM Irlandia: Konsekuensi No-Deal Brexit Akan Berlangsung Bertahun-Tahun

Rifan Financindo  –  Selama tujuh hari terakhir, GBP/USD bertahan di kisaran terendah sejak bulan Maret 2017 antara 1.2100-1.2200. Situasi ini tak lepas dari kebuntuan negosiasi brexit, karena PM Boris Johnson telah menyatakan tidak akan memulai perundingan lagi dengan Uni Eropa jika mereka tak bersedia menghapus klausa backstop bagi perbatasan Irlandia. Sikap Johnson membawa konsekuensi yang sangat luas.

Kepada wartawan hari ini, PM Irlandia Leo Varadkar mengungkapkan bahwa Inggris semakin mungkin keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun. Dan ketika “No-Deal Brexit” benar-benar terjadi, maka ia menilai konsekuensinya akan dirasakan semua pihak selama bertahun-tahun ke depan.

PM Irlandia Leo Varadkar

Uni Eropa menginginkan open border antara Irlandia Utara (bagian dari Inggris) dan Republik Irlandia (negara anggota UE). Inggris di bawah kepemimpinan Theresa May mengamini keinginan tersebut, sehingga “Backstop Plan” dimasukkan dalam draft kesepakatan brexit. Namun, elite politik Inggris bersilang pendapat dengan UE mengenai muatan klausa tersebut.

Sengketa di parlemen Inggris mengakibatkan kegagalan May untuk mengesahkan draft kesepakatan brexit, bahkan memaksanya mengundurkan diri dari kursi Perdana Menteri. Penggantinya, Boris Johnson, merupakan salah satu promotor kampanye “Vote Leave” dalam referendum brexit beberapa tahun lalu. Setelah dilantik, Johnson langsung menginstruksikan kabinetnya untuk mempersiapkan “No-Deal Brexit” dan meminta UE untuk menghapus klausa backstop.

Leo Varadkar mengatakan kepada wartawan di Belfast bahwa draft kesepakatan brexit maupun klausa backstop “dibuat bersama” dengan Inggris, bukan dipaksakan oleh Uni Eropa kepada Inggris. Secara tidak langsung, ia menyesalkan sikap Perdana Menteri Inggris saat ini yang bersikeras menuntut penghapusan klausa tersebut.

“Dalam hal ‘no deal’, Anda tahu, seiring berjalannya waktu, ya, ‘no deal’ menjadi semakin mungkin (terjadi) dan itu sebabnya kami telah bersiap-siap untuk menghadapinya sejak sebelum referendum (brexit) diadakan,” kata Varadkar.

Lanjutnya, “(Konsekuensi brexit) ini berlangsung terus dan terus selama bertahun-tahun. Ini takkan berakhir, ini adalah status permanen baru, sebuah perubahan permanen dalam hubungan antara Uni Eropa dan Irlandia di satu sisi, dan dengan Inggris di sisi lain.”

Meski demikian, ia tak menyetujui opini segelintir kalangan untuk mengadakan referendum kemerdekaan Irlandia Utara dari Inggris. Katanya, “Kami meyakini ada probabilitas besar bahwa (referendum kemerdekaan Irlandia) akan kalah dan memecah-belah, saya kira, di Irlandia Utara ini.”  ( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )

Lihat : Rifan Financindo

Sumber : seputarforex