Rifanfinancindo | Produksi Industri China Mengecewakan, Dolar Australia Dan Kiwi Tumbang

Rifanfinancindo – Mata uang Dolar Australia melemah nyaris 0.5 persen pada kisaran 0.7061 versus Dolar AS, setelah rilis data produksi industri China yang meleset dari ekspektasi. Pasangan NZD/USD juga tergelincir sekitar 0.3 persen ke level 0.6838 dalam perdagangan sesi Asia hari Kamis ini (14/Maret). Di antara major pairs, Aussie dan Kiwi merupakan dua mata uang yang paling rentan terdampak oleh perlambatan ekonomi China. Pasalnya, apabila permintaan atas komoditas yang jadi bahan baku industri dan konsumsi China menurun, maka harga komoditas berpotensi merosot lagi, sementara pendapatan ekspor Australia dan New Zealand juga bakal berkurang.

rifan-pekanbaru.com

Tadi pagi, laporan produksi industri China hanya menunjukkan kenaikan 5.3 persen (Year-on-Year) dalam bulan Februari 2019. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5.7 persen pada periode sebelumnya, serta berada di bawah estimasi kenaikan 5.5 persen.

Dimitri Zabelin, analis mata uang junior DailyFX, mengungkapkan, “Pertumbuhan yang lebih lambat di China kemungkinan akan terus membebani Aussie yang sentimennya berhubungan erat, bukan hanya karena China merupakan mitra dagang terbesar Australia. Meskipun berita-berita tentang konflik perdagangan antara Beijing dan Washington telah makin kurang diperhatikan dibandingkan risiko jarak dekat lainnya, (tetapi) hubungan yang rapuh antara keduanya bisa jadi masih menggelayuti sentimen bullish bagi AUD.”

“Turut menambah keraguan publik mengenai kekuatan Aussie, Gubernur RBA Philip Lowe baru-baru ini menyatakan tak ada alasan kuat untuk penyesuaian suku bunga dalam waktu dekat. Meskipun awalnya (RBA) berencana menaikkan (suku bunga) sebagai langkah kebijakan selanjutnya, outlook (ekonomi) telah bergeser menjadi lebih ‘seimbang’ dengan indeks swap mengindikasikan probabilitas lebih besar untuk pemangkasan suku bunga ketimbang kenaikannya. Hal ini terjadi seiring deflasi yang dialami harga perumahan dan boleh jadi mulai memengaruhi belanja konsumen, (sehingga) berpotensi menggunting alasan yang tersedia untuk menaikkan suku bunga.”

Ke depan, pelaku pasar akan terus memantau data-data ekonomi China serta perkembangan negosiasi dagang AS-China sebagai dua faktor penggerak Aussie dan Kiwi. Di samping itu, naik-turunnya sentimen risiko pasar sehubungan dengan ketidakpastian Brexit dan indikasi perlambatan ekonomi global juga bisa memengaruhi kedua mata uang antipodean itu.   ( Mbs-Rifan-Financindo-Berjangka )

Lihat : Rifanfinancindo
Sumber : seputarforex