Rupiah Ditutup Menguat ke Posisi Rp 13.227/USD

Rifan Financindo Berjangka ??Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (6/4) sore melemah tipis sebesar 6 poin menjadi Rp 13.227 per dolar AS dibandingkan dengan posisi sebelumnya Rp 13.221 per dolar AS. Sejumlah mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS akibat harga minyak mentah dunia yang kembali berada di bawah level 40 dolar AS per barel.

Harga minyak mentah dunia berpotensi kembali menguat setelah munculnya kabar pembekuan produksi minyak mentah dari beberapa anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Terbatasnya pelemahan rupiah itu juga seiring dengan aksi sebagian pelaku pasar uang di dalam negeri yang melakukan aksi ambil untung sesaat setelah rupiah sempat mengalami penguatan hingga ke level Rp 13.100 per dolar AS.

Harapan perbaikan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi dapat mendorong mata uang rupiah kembali bergerak di area positif. Seperti diketahui, pada 4 April 2016 lalu, lembaga pemeringkat asal Jepang, Rating and Investment Information, Inc. (R&I), kembali mengkonfirmasi peringkat Indonesia pada level layak investasi.

Rilis notulen hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Maret sedang dinanti oleh pelaku pasar uang.? Diharapkan, notulen itu memaparkan lebih rinci mengenai kebijakan bank sentral AS mengenai kenaikan suku bunga sehingga tidak membuat volatilitas pasar keuangan global bergejolak.? Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Rabu (6/4) mencatat nilai tukar rupiah bergerak melemah menjadi Rp 13.223 dibanding Selasa (5/4) Rp 13.217.

Lembaga pemeringkat asal Jepang, Rating dan Investment Information Inc (R&I) kembali menetapkan Indonesia sebagai negara layak investasi atau?investment grade?berdasarkan hasil keputusan per 4 April 2016. ?Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (5/4), mengatakan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah volatilitas ekonomi dan tekanan keuangan global menjadi dasar penetapan peringkat layak investasi tersebut.

Menurut Agus, ketahanan perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian perekonomian dan volatilitas keuangan global telah diakui lembaga pemeringkat. Jalinan antara kebijakan fiskal dan moneter yang semakin sinergis akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat sembari upaya melanjutkan reformasi struktural.

Bank Indonesia (BI) melaporkan R&I memberikan afirmasi Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB- / atau ?stable outlook?. R&I sebelumnya telah melakukan afirmasi atas Sovereign Credit Rating Indonesia pada BBB- / ?stable outlook? pada tanggal 18 Maret 2015.? Pemeringkatan layak investasi itu karena perekonomian Indonesia dinilai tetap stabil di tengah ketidakpastian eksternal yang masih berlanjut. Selain itu, kebijakan moneter yang diterapkan pun akomodatif, dibarengi dengan kebijakan fiskal yang proaktif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, defisit fiskal Indonesia juga dipandang rendah dengan kondisi arus fiskal yang terkendali. Likuiditas valas juga terjaga melalui kebijakan bank sentral dan kecukupan cadangan devisa yang baik, meskipun utang luar negeri swasta nonbank tetap perlu diawasi.? Adapun pada 2016, R&I melihat perekonomian Indonesia akan didorong oleh belanja pemerintah sebagai roda penggerak perekonomian dan peningkatan konsumsi rumah tangga sebagai dampak dari pelonggaran kebijakan moneter bank sentral.

Sumber :?http://financeroll.co.id/news/rupiah-ditutup-menguat-ke-posisi-rp-13-227usd/