RIFAN FINANCINDO PEKANBARU | Trump Deklarasi Bea Impor Logam, Dolar Tumbang

RIFAN FINANCINDO PEKANBARU – Saham-saham Wall Street rontok lagi dan Dolar AS terjun bebas pada hari Kamis kemarin, lantaran Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan menerapkan bea impor atas besi dan aluminium. Komentar kepala negara AS ke-45 tersebut memicu kekhawatiran kalau-kalau perang dagang global bakal berkobar, sekaligus memacu inflasi dan suku bunga AS melaju melampaui ekspektasi pasar. Akibatnya, hingga awal perdagangan sesi Asia hari Jumat ini (2/Maret), harga aset-aset berisiko tertekan, dan Dolar AS masih melemah terhadap sebagian besar mata uang mayor.

Dolar AS - Donald Trump

China Dan Kanada Siap Membalas

Dalam sebuah pertemuan pejabat perindustrian AS di White House, Presiden Donald Trump berikrar akan membangun kembali industri besi dan alumunium domestik. Oleh karena itu, besi akan dikenai bea impor 25%, sedangkan bea untuk produk aluminium dipatok pada 10%.

Padahal, saat ide penerapan bea impor logam dicetuskan oleh Departemen Perdagangan AS beberapa waktu lalu, pejabat China -sebagai negeri penghasil besi dan alumunium terbesar di dunia- telah mengatakan siap “mengambil langkah seperlunya” jika terjadi hal yang merugikan kepentingannya. Menanggapi Trump, Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland pada hari Kamis juga menyatakan negaranya akan membalas jika AS mematok tarif atas produk besi dan aluminiumnya.

“Selalu ada kekhawatiran dengan presiden ini kalau-kalau kita akan sampai pada serangkaian perang dagang yang bakal melukai pertumbuhan domestik dan global,” ungkap Phil Orlando, pimpinan pakar strategi pasar modal di Federated Investors New York, pada Reuters. Katanya lagi, “Masing perlu dilihat apakah ada respon (nyata) dari pemerintah asing. Hal itu belum diketahui, dan pasar benci ketidakpastian.”

Sebagai imbasnya, indeks-indeks saham AS kompak memerah, meskipun saham perusahaan produsen kedua logam tersebut mengalami peningkatan. Apalagi, bea impor atas logam bahan baku industri ini akan meningkatkan biaya produksi bagi mayoritas perusahaan manufaktur lainnya.

Wall Street Panik, Dolar AS Terinjak

Trio indeks saham utama AS anjlok lebih dari satu persen seusai pengumuman bea impor logam. Dow Jones Industrial Average ditutup turun 420.2 poin, atau 1.68%. S&P 500 dan NASDAQ juga jeblok. Penurunan tersebut diikuti oleh Nikkei 225, dengan merosot 2.81% sejak pembukaan perdagangan tadi pagi hingga saat berita ini ditulis. Ini merupakan kejatuhan pasar modal global untuk kesekian kalinya dalam tahun 2018, setelah merebak kekhawatiran mengenai dampak negatif inflasi dan suku bunga yang melampaui ekspektasi bagi korporasi AS.

Indeks Saham Global dan Dolar AS 2 Maret 2018

Aliran dana keluar dari aset-aset berdenominasi USD membuat Indeks Dolar AS (DXY) tumbang 0.35% kemarin; melonjakkan Euro hingga 0.55% dan Yen sampai 0.37% terhadap Greenback. Tekanan atas Dolar AS masih nampak hingga hari ini, dengan Indeks Dolar AS pada posisi -0.06% ke 90.19. Pasangan mata uang EUR/USD naik 0.06% ke 1.2273, dan USD/JPY masih -0.21% ke 106.17.

Bea Impor Logam Dan Proyeksi Rate Hike Goyahkan Outlook Korporasi AS

Rencana Trump memperburuk ketakutan pasar akan laju inflasi yang melesat lebih tinggi dibanding ekspektasi di Amerika Serikat, setelah testimoni gubernur bank sentral AS (Federal Reserve/Fed) beberapa hari lalu menyuarakan nada hawkish. Seiring dengan kenaikan biaya produksi atas banyak output industri manufaktur lantaran bea impor logam, harga-harga barang yang harus dibayar oleh konsumen pun akan meningkat. Di sisi lain, kenaikan inflasi bisa mendorong Fed untuk mengatrol suku bunga (Fed Rate Hike) lebih cepat, meskipun hal itu akan berdampak negatif bagi korporasi akibat meningginya bunga pinjaman.

Dalam testimoninya di hadapan Parlemen AS, pimpinan Fed, Jerome Powell, mengungkapkan keyakinannya bahwa perekonomian AS nampaknya tidak “overheat“. Dalam teori ekonomi, perekonomian yang “overheat” ditandai oleh kenaikan inflasi yang didorong oleh laju pertumbuhan kelewat tinggi secara tidak merata, sehingga produksi perusahaan-perusahaan tak mampu memenuhi permintaan masyarakat bahkan meski seluruh kapasitas produksi telah dipekerjakan. Tanpa “overheat“, Powell mengindikasikan masih ada kemungkinan suku bunga naik lebih cepat dari ekspektasi di tahun 2018. ( Mbs-rifan financindo berjangka )

Lihat : Rifan Financindo

Sumber : seputarforex