Warga Pegunungan Naik Delman Berjam-jam demi Berbelanja Kebutuhan Lebaran

Demi berbelanja berbagai persiapan kebutuhan lebaran seperti ayam potong, aneka kue dan kebutuhan lebaran lainnya warga yang tinggal di pegunungan di berbagai desa di pedalaman di kemacamatan Lembang Pinrang rela menumpang truk, mobil open cup hingag naik delman atau bendi ke kota.

Rifan Financindo Berjangka??- Masyarakat hingga pelosok desa terpencil di Pegunungan Pinrang, Sulawesi Selatan begitu antusias menyambut datangnya Idul Fitri 1437 Hijriyah.

Mereka menggunakan segala macam kendaraan dan harus menempuh perjalanan berjam-jam ke kota untuk berbelanja berbagai kebutuhan Lebaran.

Dua hari menjelang Idul Fitri, Senin (4/7/2016), ribuan warga dari desa terpencil di Kecamatan Lembang dan Duampanua, Pinrang, sudah tumpah ruah ke Pasar Sentral Bungi Pinrang.

Meski tidak ada angkutan umum yang memadai, warga tetap bersemangat pergi ke salah satu pasar tradisional paling ramai di Kecamatan Lembang tersebut.

Warga menumpang truk, mobil pikap, bahkan naik delman menuju kota. Faktor keselamatan dan kelayakan angkutan tidak menjadi masalah, yang penting mereka bisa sampai ke pasar hari ini.

Selasa besok dan Rabu lusa tidak ada lagi aktivitas perdagangan di pasar. Artinya kesempatan untuk berbelanja kebutuhan Lebaran hanya tersisa hari ini.

Dengan isi kocek yang tidak seberapa, para ibu-ibu rumah tangga membeli berbagai keperluan persiapan Lebaran yang mereka rencanakan sejak dari rumah.

Aneka kue untuk menjamu para tamu dan keluarga yang datang berziarah menjadi salah satu prioritas utama belanja.

Sebagian warga juga membeli ayam potong atau ayam kampung untuk disantap bersama keluarga.

Dalle, ibu rumah tangga yang menempuh perjalanan puluhan kilometer dari Desa Paranggi, misalnya, terpakas menumpang pikap sambil berdesak-desakan dengan warga dan barang bawaan mereka. Ia tidak bisa lagi menggunakan angkutan umum karena semuanya sudah disewa.

Karena alasan isi dompet tak banyak, Dalle berbelanja kebutuhan dapur yang penting-penting saja.

Pada tahun-tahun sebelumnya, Dalle bersama keluarga seringkali menyantap opor ayam untuk merayakan Lebaran. Namun, tahun ini ia memilih membeli ikan, telur, dan bumbu dapur lainnya.

“Supaya bisa tiba di pasar sebelum bubar, saya berangkat subuh ke pasar. Kalau terlambat, pasarnya biasa sudah bubar,” ujar Dalle, Senin (4/7/2016).

Demikian pula dengan Aras. Warga Desa Bakaru itu meninggalkan rumah seusai makan sahur karena khawatir terlambat tiba di Pasar Bungi saat hari pasar sudah selesai.

Dengan menumpang mobil pikap yang biasa digunakan mengangkut hasil bumi dari kebun ke rumah, Aras mengabaikan faktor kenyamanan, keselamatan, dan kelayakan kendaraan demi berbelanja kebutuhan hari raya.

Ia tampak bersemangat berbelanja ayam potong, ikan, aneka kue kering, beras, sayur-mayur dan bumbu dapur lainnya.

Sebagian warga lainnya yang tak punya angkutan umum memilih naik delman atau bendi selama berjam-jama dari desa mereka sebelum sampai ke kota. Mereka tidak memedulikan larangan delman masuk ke pasar atau ke kota.

Tingginya animo masyarakat berbelanja membuat ruas-ruas jalan dari empat penjuru ke Pasar Bungi tampak padat dan macet.

Parkir dadakan pun muncul di ruas-ruas jalan hingga sepanjang satu kilometer di sekitar pasar.(Mbs-Rifan Financindo Berjangka)